Minggu, 17 Okt 2021 21:04 WIB

Terlalu Sering Bercinta, Apa Dampaknya? Ini Penjelasan Pakar

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Shot of a couple lying under a blanket with hearts scattered on the bed Foto: Getty Images/PeopleImages
Jakarta -

Berhubungan intim menjadi kegiatan rutin yang biasa dilakukan pasangan suami istri, terutama bagi pasangan yang ingin memiliki anak. Penelitian menemukan umumnya hubungan seks dilakukan seminggu sekali, tetapi bagaimana jika terlalu sering berhubungan seks?

Dikutip dari Health, Minggu (17/10/2021), menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Archives of Sexual Behavior pada 2017 menemukan bahwa rata-rata orang dewasa berhubungan seks 54 kali setahun atau sama dengan kurang lebih seminggu sekali.

Setelah mengetahui fakta tersebut tak sedikit mungkin yang bertanya-tanya sejauh mana seks disebut berlebihan dan apa akibat dari terlalu banyak berhubungan seks?

Rebecca C. Brightman, MD, asisten profesor klinis kebidanan, ginekologi, dan kedokteran reproduksi dari New York menjelaskan bahwa tidak ada jumlah pasti terkait berapa kali seks dalam seminggu yang masuk dalam kategori berlebihan. Selama hubungan seks saling memuaskan satu sama lain dan tidak mengalami efek samping apa pun itu masih normal.

"Definisi sering berhubungan seks adalah variabel dan jika terasa enak dan tidak sakit, maka seks pada frekuensi berapa pun boleh saja," kata Dr. Brightman kepada Health.

Namun, ada baiknya juga untuk mengetahui sejumlah tanda bahwa seks sudah terlalu sering dan memberikan jeda sejenak untuk tidak berhubungan seks.

Terlalu banyak berhubungan seks, apa risikonya?

Spesialis obgyn dan ahli kesehatan wanita, Sherry A Ross dari California menuturkan risiko utama yang harus diwaspadai dari terlalu banyak berhubungan seks adalah terjadinya pembengkakan pada vagina dan labia.

"Dengan banyak rangsangan seksual, vagina dan labia menjadi penuh dengan darah, dan ini dapat menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit yang berlebihan dengan kontak seksual," jelasnya.

Hubungan seks yang lama juga dapat menyebabkan pelumasan alami vagina mengering, yang dapat menyebabkan gesekan dan rasa sakit. dr Ross juga mengatakan bahwa kekeringan vagina juga dapat terjadi pada wanita menopause yang mengakibatkan sensasi terbakar di dalam vagina selama kontak seksual dan penetrasi.

dr Ross menyarankan, jika vagina mengalami pembengkakan atau rasa sakit setelah berhubungan seksual, sebaiknya berhenti sejenak sampai sudah merasa baik-baik saja. Apabila pembengkakan semakin parah, kompres dengan es untuk meredakannya.
Ketika di lain waktu ingin berhubungan seks lebih lama lagi, pertimbangkan untuk menggunakan pelumas vagina atau minyak kelapa extra virgin agar kelembapan ekstra di vagina tetap terjaga selama sesi bercinta.

Bisakah pria juga berdampak karena terlalu banyak seks?

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Seks Anal dan Risiko Kesehatannya"
[Gambas:Video 20detik]