Senin, 13 Jun 2022 21:30 WIB

Deretan Mitos dan Fakta Tentang Masturbasi, Jangan Percaya yang Salah!

Afif Ahmad Rifai - detikHealth
fantasi seksual Foto: iStock
Jakarta -

Masturbasi adalah kebiasaan bawaan alami yang dilakukan oleh sebagian besar pria muda saat pubertas. Ini merupakan sebuah kebiasaan memuaskan diri dengan cara merangsang alat kelamin, seringkali menggunakan tangan, atau beberapa mungkin menggunakan alat khusus untuk mencapai orgasme.

Dikutip dari Men's Journal, Kinsey Institute's 2009 National Survey of Sexual Health Behaviour menemukan bahwa sekitar 90 persen pria telah melakukan masturbasi saat mereka berusia 30 tahun.

Meskipun demikian, terdapat beberapa kesalahpahaman mengenai perilaku seksual tersebut. Berikut merupakan beberapa mitos yang cukup berkembang mengenai masturbasi.

1. Berakibat Buruk pada Alat Kelamin

Masturbasi memang dapat merusak atau berakibat buruk pada alat kelamin, namun hal tersebut jika dilakukan dengan cara yang kasar. Menurut Dr Ira D Sharlip, seorang profesor klinis urologi di UCSF, selama pria tidak melakukan operasi baru-baru ini seperti sunat, maka masturbasi seharusnya aman.

Penis mungkin dapat patah jika melakukan masturbasi secara kasar dan agresif, namun hal tersebut sangat jarang terjadi.

2. Tidak Berpengaruh pada Kesuburan

Pria memang tidak benar-benar kehilangan kesuburan akibat dari masturbasi, namun untuk sementara hal tersebut dapat mengurangi kesuburan.

"Sebagian besar pria membutuhkan waktu sekitar 12 hingga 24 jam untuk meregenerasi jumlah sperma yang baik sebelum ejakulasi sebelumnya," ujar Sharlip.

Jadi, jika seseorang sangat sering melakukan masturbasi (setiap hari) hal itu akan menekan jumlah sperma dan mengurangi kesuburan.

3. Masturbasi Menyebabkan Gila

Hal ini merupakan mitos lama yang mirip dengan masturbasi dapat menyebabkan kebutaan dan menumbuhkan rambut di telapak tangan. Padahal, banyak ahli menyatakan bahwa masturbasi memiliki manfaat untuk kesehatan mental.

Kinsey Institute mencatat bahwa stimulasi diri dapat membuat seseorang menjadi lebih rileks serta meningkatkan kepercayaan diri dalam urusan seksualitas.

4. Mengobati Disfungsi Ereksi

Perawatan terbaik untuk masalah disfungsi ereksi adalah mendatangi tenaga ahli profesional di bidang kesehatan seksual. Masturbasi tidak dapat menyembuhkan disfungsi ereksi.

Namun, hal ini dapat menjadi sebuah tes diagnostik disfungsi ereksi seorang pria. Jika seorang pria mampu mempertahankan ereksinya ketika masturbasi, namun tidak ketika bersama pasangan, maka kemungkinan pria tersebut mengalami disfungsi ereksi yang disebabkan oleh mental bukan fisik.

5. Mencegah Kanker Prostat

Penelitian tahun 2003 dan 2004 mengemukakan bahwa pria yang lebih sering ejakulasi memiliki tingkat risiko terkena kanker prostat lebih rendah. Studi tersebut menunjukkan bahwa pria yang melakukan masturbasi sebanyak 20 kali sebulan memiliki tingkat risiko kanker prostat lebih rendah hingga sepertiga dibandingkan pria yang melakukan masturbasi empat hingga sembilan kali sebulan.

Sebuah studi tahun 2008 mengemukakan sebuah peringatan bahwa seorang pria yang aktif secara seksual di umur 20-an memiliki peningkatan risiko kanker prostat, terutama bagi mereka yang sering melakukan masturbasi.

6. Masturbasi Merusak Seks

Secara biologis, masturbasi dapat menghilangkan sesuatu dari orgasme.

"Saya pikir terlalu sering melakukan orgasme melalui masturbasi dapat mengurangi kenikmatan saat berhubungan dengan pasangan," kata Sharlip.

Hal tersebut terjadi ketika intensitas orgasme berlangsung segera setelah orgasme yang terakhir tiba. Namun, hal tersebut berlaku untuk seluruh jenis aktivitas seksual yang mengalami klimaks.



Simak Video "Jarang Ejakulasi Sebabkan Kanker Prostat?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)