3 dari 10 Pria Indonesia Alami Disfungsi Ereksi, Ternyata Ini Pemicunya

ADVERTISEMENT

3 dari 10 Pria Indonesia Alami Disfungsi Ereksi, Ternyata Ini Pemicunya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Kamis, 23 Jun 2022 12:01 WIB
Banana as a symbol of male penis in hand on a yellow background hidden by censorship. Sexual masturbation and orgasm, impotence problem. Self-pleasure concept.
Ilustrasi penis (Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrii Zastrozhnov)
Jakarta -

Disfungsi ereksi merupakan salah satu masalah yang kerap dialami oleh banyak pria. Konsultan andrologi-urologi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, dr Widi Atmoko SpU(K) menyebut kondisi ini membuat seseorang mengalami ketidakmampuan untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi demi mencapai aktivitas seksual yang memuaskan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Professor Konco Birowo dan tim, kurang lebih 35,6 persen pria Indonesia mengalami disfungsi ereksi. Lebih dari 50 persen dialami oleh pria berusia 40-70 tahun.

"Prevalensi disfungsi ereksi di Indonesia dari penelitian Prof Konco Birowo dan tim, kurang lebih 35,6 persen, di mana usia 40-70 tahun lebih dari 50 persen mengalami disfungsi ereksi. Semakin usia tua prevalensi semakin tinggi," ucap dr Widi saat webinar virtual, Rabu (22/6/2022).

dr Widi juga mengungkapkan bahwa disfungsi ereksi merupakan salah satu jenis disfungsi seksual yang paling banyak dialami oleh pria secara prevalensi. Meskipun kenyataannya sebagian besar kasus masih belum terdiagnosis.

"Sebenarnya disfungsi seksual itu banyak ya, ada gangguan ejakulasi, gangguan libido. Cuma memang dari golongan-golongan disfungsi seksual ini sebenarnya disfungsi ereksi ini yang paling banyak secara prevalensi. Namun kenyataannya, sebagian besar kasus masih belum didiagnosis," ucap dr Widi.

Adapun pemicu disfungsi ereksi terbagi menjadi tiga golongan besar, yaitu organik, psikogenik, dan campuran antara psikogenik-organik. Organik sendiri artinya disebabkan oleh masalah pada organ seperti saraf dan pembuluh darah. Biasanya karena faktor risiko penyakit diabetes, hipertensi, kolesterol, hingga merokok. Berbeda dengan psikogenik yang lebih mengarah pada kesehatan mental, seperti stres.

"Kalo organik ini bisa karena faktor risiko karena diabetes melitus, hipertensi, merokok, kolesterol, nah ini mengakibatkan gangguan pada aliran darah sehingga ciri-cirinya biasanya ada kelemahan atau tidak ada ereksi pada pagi hari atau saat tidur. Dan biasanya terjadi secara perlahan dan memberat," imbuh dr Widi.

"Beda dengan psikogenik, ini tentunya lebih ke arah pikiran. Bisa ada karena masalah dengan hubungan pasangan, atau masalah kerjaan, masalah dengan teman yang membuat dia stres," sambungnya lagi.

Sedangkan campuran (organik dan psikogenik), seseorang kemungkinan awalnya mengidap penyakit yang kemudian lama-lama stres dengan kehidupannya. Hal ini tentu bisa memperparah disfungsi ereksi.

"Dan golongan tiga adalah campuran (organik dan psikogenik). Jadi, ada yang awalnya organik tapi lama-lama stres dengan pasangannya dan juga memperparah, dan dia akan mengalami fase-fase disfungsi ereksi karena psikogenik. Jadi, sebenarnya seperti lingkaran setan," pungkasnya.



Simak Video "AIDS dan 10 Gejala Umumnya: Batuk Kering-Demam"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT