Kamis, 04 Jan 2018 08:37 WIB

True Story

Cerita Dian Didiagnosis Kanker Payudara di Usia 26 Tahun

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Dian mengaku terkejut ketika mengetahui benjolan di payudaranya ternyata kanker, padahal ia masih berusia 26 tahun. Foto: instagram/Radian Dian mengaku terkejut ketika mengetahui benjolan di payudaranya ternyata kanker, padahal ia masih berusia 26 tahun. Foto: instagram/Radian
Jakarta - Kanker bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali kanker payudara. Di usianya yang masih 26 tahun, wanita ini sudah didiagnosis mengalami kanker payudara stadium 3.

Radian Nyi Sukmasari merasakan adanya benjolan di bagian payudara kanannya sekitar bulan Mei tahun lalu. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, biopsi pun dilakukan pada bulan Juni, dan menunjukkan hasil negatif.

"Kebetulan waktu periksa gula darah memang agak tinggi, tapi hasil biopsinya negatif, dokter menyarankan saya untuk kembali periksa 6 bulan lagi, sekaligus menjaga pola makan agar gula darah stabil," ungkap Dian, ditemui detikHealth baru-baru ini.

Tak pernah terpikirkan oleh Dian bahwa benjolan yang ada di payudara kanannya adalah kanker. Jika dilihat berdasarkan faktor risiko kanker payudara, ia tergolong kelompok yang memiliki risiko kecil.

Baca juga: Inge Prasetyo, Pegiat Olahraga yang 'Akrab' dengan Kanker Payudara

"Dari genetik nggak ada yang kena kanker. Saya merokok nggak, minum alkohol juga nggak. Punya anak nggak, menikah saja belum. Usia masih 26 tahun," tambah wanita berkacamata ini.

Namun seiring berjalannya waktu, ia merasakan benjolan di payudaranya semakin membesar. Benjolan itu juga mulai mengeras, kadang terasa nyeri. Ia juga tidak menemukan gejala khas kanker payudara seperti payudara yang bersisik atau kulit jeruk, perubahan bentuk puting atau keluarnya darah dan cairan.

Gejala yang dirasakannya hanya rasa sakit di bagian ketiak. Ia juga mulai mudah letih dan kehilangan stamina. Akhirnya, Dian memutuskan untuk kembali berobat ke dokter di awal bulan Desember.

Dokter pun melakukan open biopsi, yakni biopsi yang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan di bagian dekat puting. Hasilnya keluar sepekan kemudian, dan kecurigaan Dian terbukti, ia didiagnosis mengidap kanker payudara stadium 3.

"Tentu saja saya kaget dan syok, sempat menangis juga,terutama keluarga. Tapi lalu saya fokuskan pikiran untuk bagaimana caranya agar bisa segera menjalani pengobatan dan kemoterapi," katanya lagi sembari tersenyum.

Salah satu hal yang perlu disiapkan saat menjalani pengobatan kanker adalah biaya. Meski sudah menjadi anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, biaya yang ia keluarkan secara pribadi juga tidak sedikit.

Pemeriksaan PET SCAN (positron emission tomography scanning) misalnya, membutuhkan biaya kurang lebih Rp11 juta. Hasil pemeriksaan PET Scan menunjukkan bahwa kanker payudaranya sudah menyebar ke kelenjar getah bening dan paru-paru.

Ia juga dijadwalkan menjalani operasi pemasangan cell site untuk persiapan kemoterapi. Biaya operasi yang dibutuhkan mencapai Rp34 juta. Jika ditotal, biaya yang ia keluarkan hingga saat ini sudah mencapai lebih dari Rp50 juta.

Selain biaya, ada satu hal lagi yang dirasakan Dian cukup mengganggu kesehariannya, yakni stigma pada pasien kanker. Pasien kanker menurutnya adalah pejuang yang sedang berusaha untuk kembali sehat. Karena itu, beban psikologis yang ditanggungnya pun cukup besar.

Dian sangat berterima kasih kepada dukungan yang datang dari rekan-rekan maupun keluarganya. Namun tak sedikit pula yang bertanya tentang kondisinya karena hanya ingin tahu, yang terkadang pertanyaan yang diajukan cukup menusuk hati.

Baca juga: Perjuangan Leni, Jualan Kue untuk Melawan Kanker Payudara Stadium Empat

"Saya berusaha untuk melihat ke depan, fokus kepada upaya pengobatan. Tapi ketika ada yang bertanya 'kok bisa sih kamu kena kanker' ya saya nggak bisa jawab, karena saya juga nggak tahu," ujar Dian.

Dian tak ingin penyakit kanker yang dialaminya membuat rekan kerja, teman, maupun keluarga, mengasihaninya secara berlebihan. Ia tak ingin terjebak di dalam lingkaran kesedihan dan penyesalan, yang bisa saja membuatnya putus asa dan malah tidak ingin melanjutkan pengobatan.

"Saya berpikir positif bahwa ini sudah menjadi ketentuan dari Allah, yang memang harus saya jalani sebagai bagian dari takdir," tambahnya.

Satu hal yang ia pelajari dari kondisinya saat ini adalah pentingnya melakukan pemeriksaan dini meskipun termasuk dalam kelompok berisiko rendah. Pemeriksaan dini penting bukan hanya untuk kanker, namun juga penyakit lainnya.

"Jangan mentang-mentang merasa masih muda lalu menyepelekan penyakit. SADARI (periksa payudara sendiri) penting buat perempuan, karena kanker payudara bisa menyerang siapa saja," tutupnya. (mrs/up)
News Feed