Kamis, 29 Mar 2018 19:40 WIB

True Story

Tak Pernah Datang Bulan, Gadis Ini Baru Sadar 18 Tahun Hidup Tanpa Rahim

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Haid terjadi karena luruhnya lapisan dinding rahim bagian dalam yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel telur yang tidak dibuahi. Rebekah Knight (25) dari Irlandia Utara, mengira ia akan memulai masa haidnya di saat remaja seperti kawan-kawannya.

Namun, setelah menginjak umur 17 tahun, ia tak kunjung mendapatkan haid pertamanya. Rebekah mulai khawatir ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia kemudian hanya berpikir dia hanyalah 'sedikit terlambat'.

Ia mengutarakan kekhawatirannya pada ibunya, Debbie (52), dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke ahli ginekolog untuk mendapatkan saran. Olehnya, ia dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani serangkaian tes.

Setelah menjalani pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI), diketahui bahwa Rebekah mengalami kondisi langka yang disebut dengan sindrom Mayer Rokitansky Hauser (MRKH), yang berarti ia terlahir tanpa vagina, serviks, atau rahim.


"Aku terkejut dan serasa patah hati. Nggak percaya hal ini terjadi padaku. Apalagi saat aku diberi tahu aku tidak akan dapat mempunyai anak. Nggak ada kata-kata yang bisa menjelaskannya," kata Rebekah saat itu, demikian dikutip dari Metro.

Menurut NCBI, sindrom MRKH menjangkit 1 dari 4.500 wanita di seluruh dunia. MRKH merupakan salah satu kelainan kongenital di mana tidak terbentuknya kelamin dan organ reproduksi (kandungan, saluran telur dan vagina) pada perempuan. Hal ini dikarenakan pada masa embriologi atau pembentukan organ saat kehamilan (minggu kesembilan) ada kelainan yang disebut fusi ductus Muller.

Penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Biasanya hal ini ditandai dengan amenorrhea primer, dimana seorang remaja wanita usia 14 tahun belum ada tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder (tumbuhnya payudara, rambut kemaluan) dan belum pernah haid.


Atau remaja usia 16 tahun yang sudah ada tanda seks sekunder tetapi belum pernah haid. Jika sudah menikah biasanya tidak terjadi penetrasi penis ke dalam vagina (karena vagina tidak terbentuk).

Pada kasus Rebekah, ovarium atau indung telurnya masih dapat berfungsi dengan normal. Setidaknya ia masih memiliki pilihan mencari rahim pengganti atau adopsi untuk memiliki anak.

Sayangnya, seakan tak kurang berita buruk, dokter juga menyebutkan bahwa Rebekah hanya mempunyai satu ginjal dan membutuhkan operasi untuk merekonstruksi vaginanya karena ukurannya sangat kecil. Bagian tersebut harus ditingkatkan agar dapat bekerja secara normal.

"Aku selalu sedikit takut dengan rumah sakit, tapi aku tahu ke depannya akan menguntungkanku dalam jangka waktu panjang," tutur Rebekah.

Akhirnya di musim panas tahun 2013, ia menjalani dua prosedur. Yaitu yang pertama dokter merentangkan jaringan di luar vaginanya sebelum menggunakannya untuk prosedur kedua, yaitu merekonstruksi area tersebut untuk melebarkan bagian mulutnya yang tadi berukuran kecil.

Lepas operasi, ia sembuh total dan tidak mengalami infeksi apapun, tetapi ia harus menghabiskan waktu selama 12 hari terkungkung di rumah sakit untuk masa pemulihan.

Selain itu, ia juga menghabiskan waktu selama sebulan menjalani fisioterapi yang keras agar ia dapat berjalan kembali sebelum keluar dari rumah sakit.

"Ada beberapa waktu di mana aku bertanya-tanya dan apakah ini layak dan ini butuh kerja yang amaat keras. Tapi imanku berperan besar dalam menolongku, dan juga banyak orang dari gereja mendoakanku. Aku percaya Tuhan menaruhku dalam keadaan ini untuk menarikku ke keadaan yang lebih baik," kata Rebekah.

Sejak keluar dari rumah sakit, Rebekah sering membagikan perjalanannya mengalami MRKH untuk membantu orang-orang dengan posisi yang sama. Ia pun mendapat banyak dukungan dari teman-temannya dalam grup Facebook.

Berbekal hal tersebut, ia menulis sebuah buku mengenai pengalamannya berjudul 'The Girl With No..' pada tahun 2015, dua tahun setelah ia dinyatakan sembuh total dari operasi.

Rebekah menyatakan bahwa, "Aku merasa alamiah lakukan hal ini, aku punya kondisi unik dan aku juga ingin membantu wanita lain yang nggak hanya juga punya MRKH, tapi seluruh wanita secara umum agar mereka juga tahu tentang hal ini."

Ia juga mengaku setelah terdiagnosis, cukup lama ia membisu mengenai kondisinya karena menurutnya itu sangat personal dan privat. Hanya keluarga terdekatnya yang tahu, dan ia tak ingin ada orang lain tahu.

Tapi kini ia tak lagi merasa malu tentang kondisinya dan menyebut berbicara dengan orang lain adalah suatu terapi tersendiri. Kini berumur 25 tahun Rebekah berharap dapat bertemu dengan seseorang dan jatuh cinta.

"Aku nggak terlalu khawatir masalah hubungan, karena aku percaya orang yang tepat untukmu akan tetap menerimamu apa adanya," tutup Rebekah.

(Frieda Isyana Putri/up)