Senin, 10 Sep 2018 16:30 WIB

Sedih! Karena Campak, Ibu di Pekanbaru Ini Anaknya Tunarungu Sejak Lahir

Chaidir Anwar Tanjung - detikHealth
Gara-gara terinfeksi campak, seorang ibu di Pekanbaru melahirkan bayi dengan gangguan pendengaran (Foto: thinkstock) Gara-gara terinfeksi campak, seorang ibu di Pekanbaru melahirkan bayi dengan gangguan pendengaran (Foto: thinkstock)
Pekanbaru - Poppi Morina seorang ibu warga Pekanbaru menyampaikan pengalamannya saat bayinya terkena campak dan rubella. Kisah itu bermula ketika murid di tempat dia mengajar terkena campak.

"Saya menceritakan ini demi kebaikan generasi anak-anak kita bebas dari kena penyakit campak yang berimbas pada tulinya anak saya," kata Poppi Morina dalam acara 'Diskusi Publik Situasi dan Ancaman Penyakit Campak dan Rubella di Provinsi Riau' Senin (10/9/2018).

Acara ini diadakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau dan UNICEF bersama pihak keluarga yang anaknya terkena Measles/campak dan Rubella (RM).

Menurut Poppi, kisah anaknya bisa terkena penyakit MR tertular akibat ada muridnya lebih awal terkena campak. Muridnya ada sepekan tidak masuk sekolah.

"Saya mengajar di salah satu SD swasta di Pekanbaru. Waktu itu ada murid saya yang baru masuk setelah sakit sepekan. Murid saya mengaku terkena campak. Tapi katanya sudah sehat. Waktu itu saya lagi hamil dua bulan," cerita Poppi.

Tak lama setelah itu, badannya merasa meriang dan sendi-sendi tulangnya sakit. Dirinya mencoba periksa ke dokter. Dari hasil pemeriksaan diketahui jika dirinya terkena campak.

"Saat itu saya meminta dokter agar diberikan suntik MR. Tapi kata dokter sangat berisiko ibu hamil divaksin," kata Poppi.

Masih menurut Poppi, selama kehamilannya, janinnya dianggap tidak ada masalah. Semuanya berjalan normal tanpa ada masalah.

"Kondisi kandungan saya semuanya berjalan normal, walau saya dan suami sadar terkena campak. Tapi waktu itu bersama suami, tidak ada niat untuk menggugurkan kandungan karena memang tidak ada saran dokter untuk itu," kata Poppi.



Singkat cerita, Poppi akhirnya melahirkan anak pertamanya akhir tahun 2012. Dua bulan setelah bayinya lahir mulai menyadari tidak ada reaksi dengan bunyi-bunyian.

"Ada mainan kerincing-kerincing yang saya letakan di telinganya. Tapi tak ada reaksi. Waktu itu saya masih mikir positif saja, mungkin karena masih dua bulan," cerita Poppi.

Namun setelah empat bulan, kata Popp, anaknya tetap tak bisa mendengar. Karena curiga, akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

"Setelah diperiksa, dipastikan kedua telinga anak saya tuli. Dan itu imbas dari terkena campak," kata Poppi.



Akibat anaknya terkena campak, Poppi harus berjuang untuk keselamatan anaknya. Dia berobat ke sana kamari. Akhirnya agar pesan suara bisa disampaikan ke otak anaknya, terpaksa dipasang alat pendengar suara yang langsunh ditanam ke kepala anaknya.

"Jangan ditanya soal jumlah dananya. Jelasnya banyak dan ratusan juta nilainya. Beruntung ada BPJS, tapi sekarang BPJS juga mulai membatasi bagi anak-anak terkena campak. Saya bisa menerima pembatasan dari BPJS, karena memang biayanya sangat mahal," kata Poppi.

Itu sebabnya, Poppi mendorong semua masyarakat untuk tidak ragu mengikuti program vaksi MR yang tengah berjalan.

"Saya harapkan, masyarakat tidak ragu membawa anaknya untuk vaksin MR, ini demi masa depan anak bangsa kita sendiri," tutup Poppi.

(cha/up)
News Feed