Kamis, 25 Okt 2018 10:06 WIB

True Story

Ada Cinta Sejati dalam Kisah Perjuangan Halida Lawan Kanker Payudara

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Halida jauh-jauh dari Yogyakarta untuk berobat ke China (Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth) Halida jauh-jauh dari Yogyakarta untuk berobat ke China (Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth)
Topik Hangat Bulan Kanker Payudara
Guangzhou - Siapa bilang cinta sejati hanya ada di film atau buku? Pasangan Halida dan Robi Kusumaharta asal Yogyakarta menjadi bukti nyata cinta sejati mampu taklukkan apa saja, termasuk kanker sekalipun.

Tahun 2009, saat mandi Halida menyadari ada benjolan berukuran sangat kecil dan semacam bentuk lesung pipi di payudara kanannya. Akan tetapi, ia yang saat itu berusia 56 tahun merasa hal tersebut merupakan hal yang biasa sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya saja.

Lama kelamaan benjolannya semakin besar, meski tidak terasa sakit namun ia disarankan untuk periksa ke dokter. Dokter di rumah sakit menyebut tak ada yang bahaya dengan kondisinya dan tetap mendiamkannya, hanya meminum jamu.

"Akhirnya sampai benjolannya jadi di luar. Mungkin kan banyak orang yang benjolannya di dalam, kalau saya ke luar. Waktu itu juga saya tenang aja sih, nggak terlalu dipikir," kisah wanita yang kini berusia 63 tahun ini kepada detikHealth, Rabu (24/10/2018).



Perjalanannya berobat cukup rumit, ditambah karena tidak merasakan sakit Halida pun kerap enggan untuk memeriksakan benjolannya. Ketika mulai menghitam, ia akhirnya mengalah dan periksa di salah satu RS di Yogya, akan tetapi ia terkejut, karena belum ada tes apapun, tes darah dan segala macam tapi ia langsung divonis stadium 3B.

Kemudian ia juga sempat ke Singapura di mana dia baru mendapatkan diagnosis positif kanker payudara. Namun dokter yang menanganinya tak mau memberitahu stadium kankernya dan hanya menawarkan kemoterapi yang juga ia tolak.

"Saya mohon terus 'ya Allah, tuntunlah saya ke mana saya harus melangkah untuk sembuh'. Saya terus berdoa. Akhirnya ketemulah sama sahabat teman saya yang menyarankan saya berobat ke salah satu dokter kenalannya," lanjutnya.

Dokter tersebut memiliki metode yang berbeda dan dikenal sukses menyembuhkan beberapa penyakit. Mendengar hal tersebut, Halida menyanggupi melakukan kemoterapi bersama dokter tersebut selama dua kali sesi.

Di sesi ketiga, sang dokter merujuknya ke Fuda Cancer Hospital di Guangzhou, China, sebagai kelanjutan pengobatan yang lebih baik. Usai mendapatkan informasi seputar RS tersebut, Halida dan Robi, sang suami, berangkat menuju China pada tahun 2011.



Ia menjalani empat kali kemoterapi yang harus lakukan per tiga minggu sekali, bolak-balik Indonesia dan China, terus bersama sang suami yang setia menemaninya ke manapun. Kemoterapi selesai, ia menjalani cryosurgery untuk membunuh sel kankernya, dilanjut dengan operasi total mastektomi atau operasi pengangkatan payudara total di payudara kanannya. Dua minggu kemudian, ia dinyatakan bersih dari sel kanker.

Wanita yang sehari-harinya aktif sebagai wirausahawan dan dalam organisasi ini mengaku dulunya menggeluti olahraga. Bahkan sebelum ia terdiagnosis, Halida menyebut ia masih aktif bermain tenis.

Tumbuh sebagai wanita yang kuat pendiriannya, Halida memiliki pedoman bahwa ia meyakini umur seseorang ada di tangan Tuhan dan semua orang baik yang sakit maupun sehat memiliki kesempatan yang sama. Sehingga walau terkena kanker, ia tetap berusaha dan tidak merasa takut.

"Saya yakin umur di tangan di Tuhan. Orang yang sakit dan yang sehat itu sama, ada yang bertahun-tahun sakit masih bisa hidup sampai sekarang, ada yang hidupnya sehat eh meninggal karena serangan jantung. Jadi ngapain kita takut. Ya tetep berdoa dan berusaha. Apapun yang kita lakukan ya kita jalanin. Tapi kalau emang udah nggak bisa diapa-apain ya udah itu udah waktunya kita pulang," kata ibu dua anak perempuan ini.

Pasangan Halida dan Robi Kusumaharta asal YogyakartaPasangan Halida dan Robi Kusumaharta asal Yogyakarta Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth


Suami Siap Siaga

"Ya terus terang saya kaget juga (waktu tahu Halida terdiagnosis kanker). Sampai beberapa hari itu saya mikir, saya nangis. Dia nggak nangis, tapi kami. Saya dan anak-anak saya," kata Robi (66), suami Halida.

Usai mengetahui diagnosis istrinya, ia langsung mencari-cari informasi seputar kanker payudara. Ia tahu, hal utama yang harus ia lakukan adalah mendukung sang istri secara emosional dan mendampinginya.

Dalam pengobatan, Robi terus mendampingi istrinya tersebut. Ia rela meninggalkan beberapa kegiatannya, bahkan harus bernegosiasi dengan kedua anaknya soal kemungkinan menghentikan sekolah sementara karena ingin memfokuskan biaya untuk kesembuhan sang ibu.

Ia memang banyak menyerahkan keputusan pengobatan kepada istrinya, karena dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri dan Robi memercayai itu. Dan pria yang aktif berorganisasi ini selalu mendiskusikannya bersama-sama.

"Saya tahu datang ke Guangzhou ini adalah keputusan yang terbaik. Saya kan belajar dari istri saya, istri saya juga. Kami berdua berkomitmen. Istri saya banyak mengajari saya hidup yang sederhana dan cukup," kata Robi lagi.

Robi juga sempat mengalami HNP setelah bolak-balik berada di pesawat. Sebelumnya ia yang mendorong kursi roda istrinya, namun setelah terkena HNP justru ia yang harus didorong istrinya di kursi roda sekembalinya mereka pulang ke Indonesia.

Ia pun tak mengeluh ketika istrinya suka meminta tolong untuk membelikan makanan-makanan yang ia inginkan, bahkan sampai yang berjarak 2 km. Dulu sempat sulit untuk mencari makanan halal di sekitar RS, kini cukup banyak dan dekat, bahkan di kantin RS sudah memiliki sudut halal, ditambah dengan tiga prayer room untuk pasien dan keluarganya yang beragama Islam, Buddha dan Kristen.

Robi dan Halida kini memiliki 3 cucu, dan bersyukur masih dapat hidup bersama hingga kini. Halida baru saja menjalani check up di Fuda Cancer Hospital dan dinyatakan masih aman dan baik-baik saja, berkat ketangguhan dan dukungan 'cinta sejati' sang suami.

"Saya yang beruntung punya istri kayak dia," celetuk Robi seraya memandang wanita yang ia nikahi selama hampir 40 tahun tersebut, lalu mereka berdua tersenyum.






Tonton juga 'Usia Tentukan Cara Terbaik Deteksi Kanker Payudara':

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
Topik Hangat Bulan Kanker Payudara
News Feed