Kamis, 31 Jan 2019 17:15 WIB

Kisah Rifaldi, Remaja Penyintas Kanker Langka yang Menyerang Ginjal

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Survivor kanker ginjal Rifaldi (14) dan ibunya (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth) Survivor kanker ginjal Rifaldi (14) dan ibunya (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
Jakarta - Raut ceria nampak di wajah Rifaldi (14) saat bercerita mengenai dirinya yang sempat terdiagnosis kanker ginjal. Meski terbata, ia mengatakan sejak kecil dirinya sudah berjuang melawan kanker ginjal yang diidapnya.

"Ginjal saya tinggal satu karena kanker ginjal. Kankernya dari usia 2 tahun," tutur Rifaldi saat dijumpai di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (31/1/2019).

Meski memori masa kecil mungkin tidak bisa diingatnya dengan jelas, tapi satu hal yang membekas yakni ingatannya tentang rumah sakit. Bisa dibilang masa kecilnya habis di rumah sakit karena harus bolak-balik periksa kesehatan.

"Waktu sakit saya dioperasi, bolak-balik ke rumah sakit. Nggak bisa main sama teman yang lain," kenang Rifaldi.

Ibunda Rifaldi, Aan, menceritakan saat-saat itu tidaklah mudah. Memang sejak kecil terlihat tanda-tanda yang tidak biasa dari tubuh Rifaldi. Seperti perutnya yang membesar dan membengkak.



"Dari umur 2 tahun sudah terlihat kalau dia punya tumor ganas. Kata dokter kanker ginjal. Sudah itu dirawat, dikemoterapi. Sebelum operasi 10 kali kemoterapi, sesudah operasi 5 kali," ujar ibunda.

Meski terasa berat, Rifaldi tetap menjalani dengan sabar dan tabah. Percaya sang anak pasti bisa sembuh menjadi motivasi ibunda Rifaldi tetap kuat.

"Pesan buat ortu yang sedang anaknya sakit, tetap semangat. Kanker bisa disembuhkan," pungkasnya

Menurut spesialis onkologi, Prof Dr dr Soehartati GW, SpRad(K),Onk.Rad, kanker ginjal atau kanker tumor Wilms pada umumnya terjadi karena kelainan genetik. Faktor yang menyebabkan bisa beragam seperti paparan asap rokok dan kebiasaan hidup lainnya.

"Gejala biasanya perut agak besar dan keras. Kalau perut saat bayi kan keras pasti ketahuan. Untuk melihat stadium harus dari hasil pemeriksaan rontgen. Setelah itu operasi dan kemo," pungkas Prof Soehartati.

(kna/up)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
News Feed