Selasa, 05 Feb 2019 15:26 WIB

Sempat Dikira TBC, Ternyata Buah Hati Kena Kanker Leukemia

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Barkah Utama, anak penyintas leukemia. Foto: Aisyah Kamaliah/detikHealth Barkah Utama, anak penyintas leukemia. Foto: Aisyah Kamaliah/detikHealth
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
Jakarta - Siang itu kami sampai di rumah singgah Yayasan Anyo Indonesia (YAI). Di sana kami disambut oleh Mainar (53) yang merupakan seorang ibu dari anak penyintas kanker, Barkah Utama (11).

Barkah tampak malu-malu menyapa, sekilas tidak terlihat bahwa anak kecil ini tengah berjuang melawan penyakit leukemia ALL (Acute lymphocytic leukemia). Anak keempat dari empat bersaudara itu nampak asik mengamati kami dan sang ibu berbincang-bincang, sesekali acuh tak acuh bermain sendiri.

Pertama kali, Mainar curiga karena Barkah kecil sering sekali demam. Banyak dokter yang dikunjungi namun katanya bermacam-macam, bahkan sampai pernah didiagnosis tuberkulosis (TBC).

"(Dia bilang-- red) 'Dok kalau anak ini TBC rasanya enggak mungkin, dia sesak napas nggak pernah, batuk tidak ada'. Malah ibu dimarah, 'ibu jangan sok tahu, namanya TBC tidak harus batuk', tapi saya kan seorang ibu yang sehari-hari anak saya dengan saya," ujarnya.

"Dikasih obat sebulan tidak boleh telat obat TBC, 10 hari dia malah kejang panas 40 derajat. Dia mengigil tapi muntah terus sampai mimisan ibu bawa ke RS lain baru ketahuan."



Rumah Anyo utnuk pasien kanker.Rumah Anyo utnuk pasien kanker. Foto: Aisyah/detikHealth


Barkah sampai pernah mengalami mimisan dan matanya pun membiru lebam. Hemoglobinnya sisa 4, sehingga 2-3 hari setelah transfusi ia kembali membutuhkan darah.

"Ibu sampai pergi ke sinshe, itu dinyatakan darahnya kotor. Bingung apa yang harus dipegang. Akhirnya ke RS Otorita Batam, di sana ada dokternya yang sudah berpengalaman, dia bilang enggak usah pulang, dirawat. Dia bilang ini kemungkinan leukemia, ternyata benar. Setelah itu dikasih rujukan ke Dharmais," tutur wanita yang berprofesi sebagai guru SMA ini.

Perjalanan sejak awal tidaklah mudah, sebagai single parent sejak suaminya meninggal dunia ketika Barkah berusia 5 tahun, Mainar mencoba memenuhi kebutuhan pengobatan si bungsu. Tak terhitung berapa banyak uang yang ia harus gelontorkan.

"Pertama datang (di RS Dharmais) ditanya dokter 'Ibu tinggal di mana?' Dijawab 'enggak tahu Dok ini kita baru datang', barang-barang masih dibawa ke RS semua. Lalu katanya di rumah Anyo aja di rumah singgah. Kita nggak tahu, di daerah kan nggak ada rumah singgah," tuturnya.

Rumah Anyo untuk pasien kanker. Rumah Anyo untuk pasien kanker. Foto: Aisyah/detikHealth


Ia sampai mengeluarkan Rp 40 juta untuk bertahan hidup selama 3 bulan di Jakarta. Untung, Mainar mendengar cerita temannya soal rumah singgah, ia segera mengajak Barkah ke rumah Anyo. Barkah ternyata betah dan ia memutuskan untuk tinggal di rumah singgah tersebut.

Akhirnya di usia 6,5 tahun, Barkah pun mulai menjalani pengobatan selama 2,5 pada tahun 2013. Ia pun sempat maintenance selama 7 bulan di tahun 2017 sampai kankernya kembali muncul. Kini, Barkah telah dalam tahap maintenance untuk mencegah kankernya muncul lagi.

"Anak ini luar biasa. Dengan kondisi begitu dia masih bisa bertahan, HB-nya sudah 4 saja, sudah lemes banget, digendong aja enggak mau. Katanya kasihan ibu. Jalan dia, padahal udah benjol sini, darah udah keluar dari mulut dan hidung. Udah begitu sakitnya, enggak pernah ngeluh," tutur wanita itu sembari tersenyum.

Kepada detikHealth, Mainar sempat menitipkan pesan kepada para orangtua di luar sana agar lebih mawas dengan kondisi anak. Jangan pernah takut untuk mendengar diagnosis dokter.

"Anak ada yang demam sudah berulamg, kadang sudah sebulan sekali makin lama makin sering demam, cepat-cepatlah periksa cek darah," tandasnya.





Tonton juga 'Awas, Memasak di Panci Gosong Bisa Sebabkan Kanker':

[Gambas:Video 20detik]


Sempat Dikira TBC, Ternyata Buah Hati Kena Kanker Leukemia
(ask/up)
Topik Hangat Hari Kanker Sedunia
News Feed