Minggu, 22 Sep 2019 12:09 WIB

Kisah Chairul Ichwan, Barista yang Susah Cari Kerja Sejak Kakinya Diamputasi

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Ichwan kehilangan kakinya karena kecelakaan. (Foto: Rachman Haryanto/detikHealth) Ichwan kehilangan kakinya karena kecelakaan. (Foto: Rachman Haryanto/detikHealth)
Jakarta - Chairul Ichwan, barista kedai Kopi Demi Anak di Bekasi yang juga teman disabilitas sebelumnya sempat mengalami kesulitan saat mencari pekerjaan. Menurutnya teman-teman sesama disabilitas lainnya juga kerap sulit bekerja lantaran tak banyak perusahaan yang menerima penyandang disabilitas.

Ichwan, begitu dia biasa disapa, bercerita soal dirinya yang tak bisa kembali ke perusahaan lama usai kecelakaan yang membuatnya koma setahun. Kecelakaan pada 2005 silam itu membuat kaki kirinya harus diamputasi dan mengenakan kaki palsu.

Penolakan kerja kembali dia rasakan saat melamar ke perusahan. Padahal saat itu Ichwan sudah dinyatakan diterima.

"Dia enggak tahu saya pakai kaki palsu, diterima. Lalu saya ditanya, 'Bapak, itu kakinya kenapa?' Lalu saya jujur 'Kaki saya Pak ini diamputasi' Padahal sudah acc besok tinggal kerja. Karena saya disabilitas, mereka menolak saya kembali," kenang Ichwan.



Kehilangan kaki bukan berarti harus kehilangan harapan untuk bisa hidup mandiri.Kehilangan kaki bukan berarti harus kehilangan harapan untuk bisa hidup mandiri. Foto: Rachman Haryanto/detikHealth


Baginya, ada perusahaan yang tak mau ambil risiko saat merekrut teman disabilitas. Alasannya, menurut Ichwan, perusahaan tak mau dibebani dengan biaya berobat orang-orang disabilitas yang dapat membuat pengeluaran perusahan jadi lebih tinggi.

Pengalaman pahit yang dialami membuat Ichwan enggan melamar pekerjaan kantoran lain. Dia lalu beralih menjadi penjaga parkir dan keamanan di GKPI Bekasi dan kini beternak ikan cupang hias.
Jangan lu resah juga 'Ah, gue cacat begini'. Enggak bagus. Toh kalau mau nangis-nangis, kaki kita kan enggak kembali. Enggak nongol lagiChairul Ichwan - Barista penyandang disabilitas

"Saya mikir, wah mereka melihat seseorang hanya dari luar. Kalau diadu IQ-nya sama saya, ayo. Dulu saya di Andalas (Universitas Andalas) di atas rata-rata. Makanya saya cari kerja di mana aja gampang. Tapi dengan keadaan saya seperti ini, saya enggak melihat itu. Itu yang membuat saya sangat kecewa," jelasnya.

Teman disabilitas sejatinya tetap bisa berkarya dan bekerja di perusahaan dengan kemampuan masing-masing. Bukan berarti keterbatasan fisik juga melemahkan keterampilan yang dimiliki.

"Dia enggak mungkin melamar tanpa paham keterbatasannya," imbuh Ichwan.

Ichwan melayani pelanggan.Ichwan melayani pelanggan. Foto: Rachman Haryanto/detikHealth




Pun demikian, masih banyak teman-teman disabilitas yang menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain saja. Ichwan sangat mengecam keras hal ini.

Pria yang pernah menjadi atlet Para Seagames ini mengimbau agar mereka berusaha mencari rutinitas yang positif, entah berdagang atau berwirausaha. Meski penghasilan yang didapat tak seberapa, namun rezeki yang sedikit asal hasil keringat sendiri adalah nikmat yang tak terkira.

"Jangan lu resah juga 'Ah, gue cacat begini'. Enggak bagus. Toh kalau mau nangis-nangis, kaki kita kan enggak kembali. Enggak nongol lagi," pungkas Ichwan.

Dalam UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas Pasal 5 Ayat 1 telah disebutkan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi. Kewajiban perusahaan untuk mempunyai penyandang disabilitas sebanyak 1 persen dan 2 persen dari total karyawan sendiri sudah diatur dalam UU yang sama di Pasal 53 Ayat 1 dan 2.

Ichwan sempat menjadi penjaga parkir dan beternak ikan cupang.Ichwan sempat menjadi penjaga parkir dan beternak ikan cupang. Foto: Rachman Haryanto/detikHealth




Simak Video "Stephanie Handojo, Atlet Disabilitas yang Berprestasi "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)