Minggu, 06 Sep 2020 06:55 WIB

Euthanasia Ditolak, Pria Prancis Siarkan Detik-detik Kematian di Medsos

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Beautiful Woman Athlete Runs on a Treadmill with Electrodes Attached to Her Body, Female Physician Uses Tablet Computer and Controls EKG Data Showing on Laboratory Monitors. Seorang pengidap penyakit kronis yang tak bisa diobati mengajukan euthanasia lalu ditolak. (Foto: iStock)
Jakarta -

Seorang pria di Prancis mengidap penyakit yang tidak bisa diobati sejak 34 tahun terakhir. Permintaan euthanasia atau kematian berbantu ditolak, ia lantas mogok makan dan minum obat lalu menyiarkan ajalnya via livestreaming.

Alain Cocq (57), seorang pengidap penyakit degeneratif, sebelumnya telah menulis surat kepada presiden Emmanuel Macron. Ia meminta diberi sedatif atau penenang sehingga bisa meninggal dengan tenang, tetapi permintaan tersebut ditolak karena bertentangan dengan hukum.

"Saya tidak berada di atas hukum, saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda," tulis Macron dalam balasannya seperti diunggah Cocq di media sosial.

Negara tetangga Prancis, yakni Swiss, Belgia, dan Belanda, telah mengadopsi aturan yang memperbolehkan kematian yang dibantu medis pada kasus tertentu. Prancis tidak menerapkan hal itu di bawah tekanan gereja Katolik.

Permintaan euthanasianya ditolak, Cocq memutuskan untuk tidak makan, minum, atau mengonsumsi obat-obatan. Ia juga akan menyiarkan detik-detik kematiannya di Facebook secara live.

"Saya telah menyelesaikan makan terakhir. Saya minum untuk kesehatan Anda terakhir kalinya. Jalan menuju pembebasan dimulai dan percayalah, saya bahagia," kata Cocq, dikutip dari Reuters.

Cocq mengidap kondisi yang menyebabkan aneurisma otak, sehingga mengalami kejang jika tidak mengonsumsi obat. Ia dikatakan juga mengalami nyeri berkepanjangan.



Simak Video "Ahli Tak Yakin Vaksin Corona Bisa Selesai 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)