Rabu, 05 Mei 2021 12:12 WIB

Sering Mendengkur Keras, Pria Ini Ternyata Idap Tumor Otak

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ilustrasi otak Ilustrasi otak. (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Seorang pria berusia 52 tahun asal Thurso, Skotlandia, meninggal dunia setelah mendengkur keras saat tidur. Setelah diperiksa, pria tersebut ternyata mengidap tumor otak yang parah.

Sebelum diketahui mengidap tumor di otaknya, pria bernama Michael Mackay tidak pernah mengalami gejala apapun, selain mendengkur keras. Michael dan istrinya, Trish, sempat bolak-balik rumah sakit yang berbeda untuk mengetahui penyebab dengkuran keras tersebut.

"Dia di atas, di kamar tidur dan aku di lantai bawah. Aku mengambil ponselku dan naik untuk merekamnya. Ketika mendekat, aku baru menyadari dia (Michael) kejang-kejang," kata Trish yang dikutip dari The Sun, Rabu (5/5/2021).

"Saya langsung menelepon ambulans. Saat petugas medis tiba, mereka mengira Michael mengalami serangan jantung," lanjutnya.

Saat sampai di rumah sakit (RS), Michael terlihat baik-baik saja dan diperbolehkan pulang. Tetapi sebelum pulang, petugas medis melakukan CT scan otak Michael.

"Saat kami akan pergi, dokter kembali meminta kami untuk tetap berada di RS Raigmore, di Inverness, karena menemukan sesuatu pada hasil CT scan," ujar Trish.

Dokter menemukan adanya tumor otak itu diketahui pertama kali pada 16 Agustus. Pada akhir September, Michael menemui konsultan ahli bedah saraf di Aberdeen Royal Infirmary.

Pada 5 Oktober, Michael menjalani biopsi otak untuk menyembuhkan tumor otaknya. Namun, tiga minggu kemudian dokter mengatakan tumor otak itu sudah tidak bisa dioperasi lagi.

"Michael jelas putus asa, tapi entah bagaimana dia tetap kuat menerima diagnosisnya dan berhasil melewati kemo pertamanya. Ia juga sempat melihat putrinya, Leanne, bertunangan," jelasnya.

Namun, pada 13 Januari Michael kembali mengalami kejang. Lengannya gemetar dan kehilangan kemampuan untuk berbicara. Michael pun dibawa ke RS dan bisa kembali pulang.

"Tapi, saat dia mulai kemoterapi berikutnya, dia sangat sakit, lelah, dan mudah tersinggung. Rasanya seperti hidup dengan orang yang sama sekali berbeda," pungkas Trish.

Trish mengatakan Michael mulai enggan untuk melakukan kemoterapi pada Februari. Menurut Michael, segala pengobatan yang dilakukannya itu malah membuat kualitas hidupnya semakin memburuk.

Michael pun akhirnya meninggal dunia pada 26 Maret, sekitar sebulan setelah ia memutuskan berhenti melakukan berbagai pengobatan. Meski sedih, Trish sangat bangga dengan segala usaha yang telah dilakukan untuk Michael selama ini.



Simak Video "Kenali Hubungan Hipertensi dan Pendarahan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)