Cerita Edwin, Pria Palembang Kena Stroke Usia 8 Tahun gegara Aneurisma

ADVERTISEMENT

True Story

Cerita Edwin, Pria Palembang Kena Stroke Usia 8 Tahun gegara Aneurisma

Hana Nushratu Uzma - detikHealth
Minggu, 13 Nov 2022 06:15 WIB
Edwin, penyintas stroke asal Palembang yang kena serangan di usia 8 tahun
Edwin, penyintas stroke asal Palembang yang pertama kali kena serangan di usia 8 tahun (Foto: Hana Nushratu Uzma/detikHealth)
Jakarta -

Bukti nyata stroke bisa menyerang kapan saja adalah Edwin Hartanu (42), seorang pria asal Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel). Edwin merupakan penyintas stroke sudah mengalami serangan pertamanya pada usia delapan tahun.

"Jadi nggak ada rasa (gejala) apa-apa," tutur Edwin menceritakan pengalamannya saat pertama kali terserang stroke, saat ditemui detikcom di Jakarta Barat, Selasa, (8/11/2022).

Stroke menyerang Edwin ketika dirinya sedang bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Katolik 3, Jl. WR Supratman, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) 34 tahun silam, tepatnya pada Sabtu (27/8/1988). Saat ia sedang mengikuti mata pelajaran matematika, tangan kanannya mendadak lemas tak bisa digerakkan.

Edwin kemudian dibawa ke UKS oleh guru sekolahnya. Beberapa menit setelah itu, ia langsung tidak sadarkan diri.

"Rupanya guru tersebut menelepon orangtua saya dan saya nggak sadar selama dua hari," tutur Edwin.

Setelah sadar, Edwin diberitahukan orangtuanya bahwa bagian tubuh sebelah kanan lumpuh. Kejadian itu terjadi 1988 silam, saat teknologi pengobatan belum canggih, terlebih di Samarinda. Oleh sebab itu, ia dibawa ke Jakarta.

Ia melakukan pengobatan dengan spesialis saraf, dr Priguna Sidharta. Menurut dr Sidharta, penyakit yang dialami oleh Edwin merupakan penyakit langka, sehingga dibawa ke Singapura untuk melakukan pengobatan lebih lanjut.

Idap Aneurisma Otak

Diketahui, penyebab stroke yang dialaminya adalah aneurisma otak. Aneurisma otak merupakan tonjolan berbentuk balon yang terbentuk di pembuluh darah otak. Dari hasil CT Scan, pembuluh darah di otak Edwin pecah.

Selama dua kali setahun, ia rutin pergi ke Singapura untuk berobat. Edwin melakukan tindakan angiografi dan embolisasi. Angiografi merupakan jenis pencitraan medis yang menggunakan sinar X untuk memeriksa kondisi pembuluh darah. Sedangkan embolisasi adalah suatu prosedur medis yang digunakan untuk mengobati berbagai masalah kesehatan dengan cara menghentikan aliran darah pada area tertentu dan biasanya paling sering pada pembuluh darah arteri.

"Setelah diembolisasi, tiap liburan sekolah (SD) hingga libur sekolah SMP saya masih kontrol ke sana (Singapura)," kata Edwin.

Dihubungi terpisah, dokter spesialis saraf RS Pondok Indah (RSPI) Jaksel, Rubiana Nurhayati, menjelaskan bahwa aneurisma biasanya merupakan penyakit kongenital atau bawaan lahir. Aneurisma bisa pecah kapan saja, bahkan tanpa gejala sekalipun.

"Dia (aneurisma) bisa pecah kapan saja tanpa perlu ada trigger," kata Rubiana pada Kamis (10/11/2022).

Kerap kali, pengidapnya tidak menyadari adanya penyakit tersebut. Penyakit ini hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan Magnetic Resonance Angiography (MRA) yakni pemeriksaan radiologi yang memanfaatkan resonansi magnet khusus untuk pembuluh darah (vaskuler).

"Jadi aneurisma ini bisa kita cegah kalau kita sudah tahu gitu," ujar Rubiana.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT