Bagaimana Tidak 'Gila'? Bakatnya Sastra Dipaksa Belajar Kimia

Ulasan Khas Ababil dan Gangguan Jiwa

Bagaimana Tidak 'Gila'? Bakatnya Sastra Dipaksa Belajar Kimia

- detikHealth
Rabu, 24 Okt 2012 09:34 WIB
Bagaimana Tidak Gila? Bakatnya Sastra Dipaksa Belajar Kimia
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta -

Tak sedikit anak-anak atau remaja yang terpaksa melakukan sesuatu karena kemauan dari sang orang tua. Jika memang hal tersebut tidak sesuai dengan keinginannya maka bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa.

"Orang tua yang memaksakan kehendaknya pada anak bisa memicu gangguan jiwa, meski tergantung dari anak itu sendiri," ujar dr Sylvia, D Elvira, SpKJ(K) dari Klinik Empati Departemen Psikiatri FKUI/RSCM saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (24/10/2012).

Orang 'gila' yang dimaksud adalah mereka yang memiliki masalah kejiwaan alias ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) berat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

dr Sylvia menuturkan kondisi anak itu sendiri turut mempengaruhi. Misalnya saja ada anak yang memang penurut mau melakukan sesuatu demi membahagiakan orang tuanya, tapi ada juga anak yang menolak dan terpaksa melakukannya.

Salah satu pemaksaan yang sering dilakukan orang tua terhadap anaknya adalah ketika memilih jurusan saat sekolah menengah atas. Kebanyakan orang tua merasa bangga jika anaknya bisa masuk IPA, padahal belum tentu bakat dan minat anak ada di situ, bisa saja ia lebih memilih IPS atau sastra. Tekanan bisa muncul karena bakat anak di bidang sastra namun 'dipaksa' belajar kimia.

Jika anak terus dipaksa untuk melakukan hal yang tidak disukainya, ditambah dengan beratnya pelajaran yang harus ia terima bisa membuatnya jadi tertekan atau stres. Lebih jauh hal ini dapat memicu gangguan jiwa, seperti gangguan kecemasan atau depresi.

"Namun pemaksaan ini tetaplah tidak baik karena harus sesuai dengan kemampuan dan perkembangan si anak, serta bagaimana orang tua bersikap atau menyikapinya itu juga turut mempengaruhi," ujar dokter yang mengambil Pendidikan spesialis Psikiatri Universitas Indonesia pada tahun 1992 ini.

dr Sylvia menyarankan orang tua perlu mengetahui bagaimana ia harus bersikap dan cara menyikapi perilaku anak, serta mengajarkan anak bagaimana cara ia mengatasi stresnya.

Sementara menurut dr Suzy Yusnadewi, SpKJ yang berpraktik di RSJ Grogol, ketika seorang anak dipaksa untuk melakukan sesuatu, maka itu bisa menyebabkan terjadinya krisis identitas yang dapat menjadi trigger atau pemicu gangguan jiwa.

Selain itu ada beberapa faktor risiko yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa pada remaja yaitu meliputi faktor biologis, faktor psikologis dan juga lingkungan.

"Untuk yang biologis seperti genetik, untuk psikologis bagaimana orang tuanya membesarkan si anak dan perilakunya termasuk bagaimana mengajarkan anak cara mengatasi stres, dan faktor lingkungan seperti dari teman-temannya," ungkap dr Sylvia.

Agar remaja terhindar dari gangguan jiwa seperti stres, depresi, gangguan kecemasan atau kondisi lainnya, diperlukan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sehingga bisa mengembangkan kemampuan anak dan tidak ada pemaksaan kehendak.



(/)
Ulasan Khas Ababil dan Gangguan Jiwa
13 Konten
Masa remaja menjadi proses untuk mencari jati diri seseorang. Nah, bila salah arahan bisa jadi mereka mengalami gangguan pada jiwanya. Lebih lanjut, simak yuk ulasan khas ini.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads