Maunya Jadi Alim, Terjebak Aliran Sesat Malah Jadi 'Gila'

Ulasan Khas Ababil dan Gangguan Jiwa

Maunya Jadi Alim, Terjebak Aliran Sesat Malah Jadi 'Gila'

Merry Wahyuningsih - detikHealth
Rabu, 24 Okt 2012 11:13 WIB
Maunya Jadi Alim, Terjebak Aliran Sesat Malah Jadi Gila
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta -

Jiwa-jiwa yang labil seringkali menjadi sasaran pihak tak bertanggung jawab. Aliran sesat misalnya, tak jarang menyasar orang yang belum memiliki mental mapan atau citra diri yang kuat. Niat jadi alim karena akan mendalami ilmu agama, malah terjebak aliran sesat yang memicu gangguan jiwa.

Dalam perekrutan anggota aliran sesat, sering dikenal istilah cuci otak. Cuci otak bisa diartikan sebagai semacam sugesti atau ide yang ditanamkan terus-menerus, terutama pada orang yang memiliki kesulitan untuk memutuskan sesuatu atau berpendapat.

"Misalnya teroris, itu kan yang dicari calon teroris adalah orang-orang yang belum memiliki identitas, ngambang, yang ragu dengan apa yang ingin dilakukannya. Nah, terus diambil oleh trainer yang ahli, lalu dicekokin dengan gagasan terus-menerus, sehingga gagasan itu jadi anutan dia," ujar dr Tun Kurniasih Bastaman, SpKJ(K), Ketua Umum Pengurus Pusat PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia), saat berbincang dengan detikHealth, Rabu (24/10/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dr Tun, pada orang dengan kejiwaan labil, kondisi cuci otak bisa saja menjadi salah satu pemicu gangguan jiwa. Hal ini terjadi karena ada pergolakan antara yang benar dan salah pada otaknya.

Korban cuci otak yang dapat kembali ke tengah keluarga, biasanya akan mengalami kondisi linglung atau bingung dengan kondisinya. Besar kemungkinan paham yang sudah menjadi anutan barunya sangat bertentangan dengan keyakinan yang ada di dalam keluarga atau masyarakat.

"Bisa saja ketika dia kembali ada pertentangan antara benar dan salah, terus bingung mana yang benar mana yang salah. Setelah kembali ke rumahnya, ternyata beda paham, akhirnya bingung. Linglung karena di rumah berbeda dengan tempat dia dicekokin," jelas dr Tun.

Dalam praktik kedokteran jiwa (psikiatri), dr Tun pun mengatakan pernah menjumpai penderita gangguan jiwa skizofrenia yang mengalami gejala-gejala waham (keyakinan yang salah) atau delusi keagamaan yang patologis sifatnya, misal merasa dirinya sebagai utusan Tuhan (Nabi) atau bahkan berkeyakinan bahwa dirinya adalah Tuhan.

"Untuk orang yang merasa seperti Tuhan atau Nabi, itu kan symptom, gejalanya. Bagi kita itu adalah waham yang bersifat agama, tapi itu tidak dengan sendirinya berhubungan dengan keimanan atau agama. Itu kesalahan persepsi. Waham itu sebuah keyakinan yang salah. Temanya saja agama, tapi jangan dikaitkan bahwa yang salah itu agamanya," tuturnya.

Diakui dr Tun, memang ada beberapa pasien skizofrenia yang ditanganinya mengalami waham keagamaan dan menganggap dirinya utusan Tuhan. Namun bukan berarti pemicu penyakitnya adalah agama, karena harus ada multi faktor yang membuat orang mengalami gangguan jiwa. Bisa jadi karena memang dia tinggal di lingkungan yang sehari-harinya banyak membahas hal itu.

Dicontohkan dr Tun, seperti di zaman dulu tema waham pasien skizofrenia kebanyakan adalah guna-guna, karena memang dalam budayanya ada kepercayaan tentang guna-guna. dr Tun pun pernah menangani pasien yang merupakan seorang dokter gigi, yang memiliki waham selalu diawasi kamera CCTV.

"Itu adalah gejala waham, curigaan, paranoid. Seperti misal latar belakangnya teknik, lalu dia merasa ada yang mengikuti, karena ada monitor di badannya atau ada makhluk dari planet lain. Wahamnya saja yang berbeda, tapi pemicunya sama, patologinya sama. Yang berbeda adalah isinya, tergantung pada budaya dan latar belakang pendidikannya," tutup dr Tun.

(mer/vit)
Ulasan Khas Ababil dan Gangguan Jiwa
13 Konten
Masa remaja menjadi proses untuk mencari jati diri seseorang. Nah, bila salah arahan bisa jadi mereka mengalami gangguan pada jiwanya. Lebih lanjut, simak yuk ulasan khas ini.

Berita Terkait