ADVERTISEMENT

Kamis, 28 Feb 2013 08:05 WIB

Cuci Otak Penangkal Stroke?

Terapi Cuci Otak, Kreasi Anak Negeri yang Penuh Kontroversi

Merry Wahyuningsih - detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Belakangan dunia kesehatan banyak dihebohkan oleh promosi pengobatan yang belum terbukti kebenarannya, salah satunya adalah terapi cuci otak sebagai penangkal stroke. 'Brain Washing made in Indonesia' ini banyak menuai kontroversi karena tanpa bukti yang jelas sudah diklaim sebagai terapi mujarab untuk menyembuhkan stroke.

'Brain washing' atau 'cuci otak' merupakan istilah populer yang sering digunakan orang awam untuk menyebut suatu tindakan yang dapat mengubah pikiran atau persepsi seseorang. Namun di Indonesia, istilah 'cuci otak' malah digunakan untuk mempromosikan sebuah pengobatan stroke yang belum teruji secara ilmiah. Sontak, promosi yang sangat gencar ini pun menuai banyak kontroversi, termasuk dari kalangan dokter saraf.

"Di Indonesia, brain washing (BW) dipromosi sebagai sarana mengobati stroke. Itu dilakukan oleh seorang dokter radiologist. Jadi istilah BW sebagai terapi cuci otak menyesatkan, jauh menyimpang dari maksud aslinya," tulis Prof. Dr. dr. Moh Hasan Machfoed, Sp.S(K), M.S, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, seperti dikutip detikHealth, Kamis (28/2/2013).

Promosi terapi cuci otak ibarat memberi angin segar bagi banyak pasien stroke. Bagaimana tidak, terapi baru ini diklaim sangat mujarab mengobati stroke. Semua kerak otak bisa dicuci bersih, membuat otak segar bugar, tak peduli berapa tahun seseorang menderita stroke.

Padahal semua obat dan cara pengobatan medis baru harus dibuktikan terlebih dahulu melalui penelitian secara bertahap. Mulai dari percobaan pada hewan, uji klinis pada manusia, hingga publikasi ilmiah. Namun prosedur cuci otak ala Indonesia ini nampaknya tidak mengindahkan kaidah ilmiah tersebut.

Prof Hasan menjelaskan dalam pedoman terapi atau guidelines (GL) stroke tidak dikenal istilah brain washing atau cuci otak. Dalam promosinya, cuci otak dilakukan untuk menghilangkan sumbatan dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah otak.

Kalau memang itu yang dilakukan, lanjut Prof Hasan, prosedurnya disebut trombolisis dan obat yang digunakan adalah rt tPA atau urokinase. Pada terapi cuci otak tidak jelas obat apa yang dimasukkan karena tidak pernah diumumkan. Karena bahaya terjadinya perdarahan otak, trombolisis tidak boleh dilakukan melebihi 8 jam.

"Yang terungkap di media, BW bisa dilakukan kapan pun, tak peduli berapa tahun orang terserang stroke. Jelas, itu tidak sesuai dengan pedoman yang sudah teruji. Keberhasilan terapi intervensi stroke bukan segala-galanya," jelasnya.

Bila semua persyaratan dipenuhi (tepat waktu, tepat indikasi, dan tepat obat), keberhasilan terapi stroke hanyalah 40–45 persen. Apalagi kalau tak terpenuhi, kegagalannya jadi semakin besar. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah diungkapkan pada terapi cuci otak baru ini.

"Tayangan promo Brain Spa di TV menyebutkan: 'Inilah satu-satunya metode baru di Indonesia, bahkan juga di dunia'. Kalau itu benar, masyarakat ilmiah Indonesia, bahkan dunia, akan menyambutnya dengan sukacita. Artinya, telah ditemukan obat baru stroke oleh putra Indonesia. Namun, itu semua harus dilakukan melalui metode ilmiah yang ketat. Tanpa penelitian jelas, tidak boleh melakukan terapi langsung pada manusia," tegas Prof Hasan.

Prof Hasan berpesan, orang yang berniat mencuci otaknya perlu hati-hati. Tanya dulu pendapat dokter lainnya, terutama dari spesialis saraf yang biasa menangani stroke. Malu bertanya, bisa terjerumus di jalan.

(mer/vta)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT