ADVERTISEMENT

Kamis, 28 Feb 2013 16:04 WIB

Cuci Otak Penangkal Stroke?

Berani Coba Bukan Berarti Dahlan Iskan Menganjurkan Cuci Otak

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Nekat mencoba sesuatu yang belum terjamin keamanannya adalah ciri khas Menteri BUMN Dahlan Iskan. Mulai dari menabrakkan mobil listrik Tucuxi, hingga yang terakhir menjajal terapi brainwash alias cuci otak yang masih kontroversial.

Terkait pengalaman menjalani terapi brainwash, tulisan Dahlan bahkan telah tersebar di media massa maupun jejaring sosial di internet. Sebagian dokter menganggap tulisan semacam ini bisa membahayakan masyarakat yang taraf 'kekritisannya' masih rendah.

Dr Fenny L Yudiarto, SpS misalnya, dokter spesialis saraf dari Universitas Diponegoro Semarang ini khawatir orang-orang yang tidak sakit akan berduyun-duyung antre untuk cuci otak. Padahal sebagai tindakan preventif atau bahkan terapi, brainwash masih belum bisa diterima 100 persen.

"Ada beberapa statement dari pejabat negara yang sangat membahayakan masyarakat misalnya statement dari Bapak Dahlan Iskan yang mengatakan bahwa brainwash sangat bagus untuk orang normal sehingga dapat mencegah stroke," tulis Dr Fenny, mengutip salah satu artikel di detikFinance.

Tidak rela dicerca dengan tuduhan miring, Dahlan memberikan pembelaan. Menurutnya, tidak satupun kata-katanya dalam tulisan tentang brainwash yang ia maksudkan sebagai anjuran bagi orang-orang sehat untuk mengikuti jejak nekatnya mencoba terapi tersebut.

"Di tulisan saya tidak ada saya menganjurkan. Saya hanya menceritakan apa yang saya alami. Saya menulis features, dan itu memang pekerjaan saya menulis features," bantah Dahlan saat ditemui usai diskusi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), seperti ditulis Kamis (28/2/2013).

Menurut Dahlan, yang dilakukannya hanyalah menuliskan apa yang dia alami tanpa ada maksud untuk mengajak pembaca agar ikut-ikutan. Sama halnya ketika ia menuliskan pengalamannya menjalani berbagai terapi, mulai dari transplantasi atau cangkok hati hingga mencoba terapi stemcell.

"Saya menulis. Saya kan selalu menulis apapun yang saya alami. Dulu waktu transplant, saya menulis malah satu buku. Kemudian ketika saya mau stemcell, saya nulis meskipun gagal. Ketika saya menjalani kemo, saya tulis. Saya memang nulis kok," pungkas Dahlan.



(up/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT