ADVERTISEMENT

Kamis, 28 Feb 2013 17:02 WIB

Cuci Otak Penangkal Stroke?

Orang-orang Seperti Ini Sebenarnya yang Perlu Dicuci Otaknya

Erninta Afryani Sinulingga - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Ketika mendengar istilah cuci otak, bayangan yang terlintas adalah doktrinasi yang dilakukan oleh kelompok radikal atau semacam hipnotis untuk mempengaruhi seseorang. Dahlan Iskan yang kini menjabat sebagai Menteri BUMN pernah menjalaninya. Menurutnya, para koruptor perlu mencoba metode ini.

Cuci otak yang dijalani Dahlan bukanlah cuci otak seperti di film-film, melainkan terapi membersihkan penyumbatan pembuluh darah di otak yang kalau dibiarkan saja bisa menjadi stroke. Istilah cuci otak atau brainwash sebenarnya memiliki pengertian tersendiri.

"Tindakan cuci otak itu hanya istilah orang awam. Dalam bidang psikologi, hal ini merupakan tindakan mengubah pola pikir atau membalik konsep menjadi lebih baik sesuai dengan norma yang berlaku, bukan seperti kasus yang sedang beredar saat ini," kata psikiater kawakan, Prof Dr dr Dadang Hawari SpKj kepada detikHealth seperti ditulis pada Kamis (28/2/2013).

Mengubah pola pikir seseorang tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Untuk dapat membuang pola pikir atau kebiasaan lama dan menggantinya dengan pola pikir baru, dibutuhkan proses penanaman nilai-nilai, persis seperti proses belajar pada otak.

Dalam ilmu psikologi, ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk mengubah pola pikir tersebut. Umumnya metode tersebut digunakan sebagai bagian dari terapi psikologis. Bisa juga digunakan untuk mengubah kebiasaan dan perilaku seseorang atau sering disebut dengan modifikasi perilaku.

"Orang-orang yang membutuhkan (pengubahan pola pikir) itu contohnya seperti pengguna narkoba yang ingin berhenti atau perokok," imbuh Prof Dadang.

Proses pencucian otak atau mengubah pola pikir dikatakan berhasil dilihat dari perubahan yang terjadi pada 'pasien'. Perubahannya mungkin tidak begitu kentara secara fisik, tapi bisa dilihat dari ide-ide, ucapan, tingkah laku dan sikapnya.

"Keberhasilannya dapat dilihat dari 3 hal yaitu pikiran, perasaan, dan perilaku. Ketiga hal ini dapat menjadi patokan apakah orang tersebut berhasil atau sukses menjalani cuci otak atau mengubah pola pikirnya," pungkas Prof Dadang.

(pah/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT