Tak Perlu Cuci Otak, Cara Gampang Ini Bisa Tangkal Stroke

Cuci Otak Penangkal Stroke?

Tak Perlu Cuci Otak, Cara Gampang Ini Bisa Tangkal Stroke

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Kamis, 28 Feb 2013 18:44 WIB
Tak Perlu Cuci Otak, Cara Gampang Ini Bisa Tangkal Stroke
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Metode cuci otak yang pernah dijalani Menteri BUMN Dahlan Iskan konon dipercaya sangat mujarab mengobati stroke. Segala sumbatan pada pembuluh darah otak bisa dicuci bersih sehingga pikiran jadi segar. Sebegitu hebatkah metode ini?

"Stroke adalah penyakit gangguan pembuluh darah otak karena tersumbat atau pecah. Dulu stroke biasa menyerang orang usia lanjut karena penuaan, tapi belakangan juga menyerang orang muda. Tidak pada keduanya dapat dilakukan tindakan thrombolysis (cuci otak) itu," kata dokter spesialis bedah saraf dari RS Abdi Waluyo, dr Wawan Mulyawan SpBS.

Seperti berhasil dihimpun detikHealth, Kamis (28/2/2013), ada cara yang lebih sederhana untuk menghalau stroke, yaitu:

1. Perhatikan asupan gizi

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Konsumsi lemak berlebih akan meningkatkan risiko kelebihan kolesterol dalam darah. Hindari makanan cepat saji karena kandungan natrium atau garamnya relatif tinggi. Untuk menangkal kolesterol, perbanyak konsumsi sayur dan buah.

Sayur dan buah terbukti mengandung banyak anti oksidan dan vitamin. Beberapa penelitian membuktikan manfaat anti oksidan dan serat untuk mengurangi lemak darah, menurunkan tekanan darah dan mencegah komplikasi kardiovaskuler.

2. Jaga berat badan

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Obesitas meningkatkan risiko stroke 2 kali lipat sebab membebani jantung dan merupakan permulaan meningkatnya kadar kolesterol, hipertensi dan diabetes melitus. Indeks massa tubuh di atas 25 disebut dengan berat badan berlebih dan di atas 30 disebut dengan obesitas.

Obesitas sentral secara konsisten meningkatkan risiko stroke 2-3 kali lipat. Tandanya adalah bila lingkar perutnya sebesar 102 cm atau lebih pada laki-laki, sedangkan pada perempuan sebesar 88 cm atau lebih. Obesitas dapat dikontrol dengan diet dan olahraga secara teratur.

3. Ukur tekanan darah

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko stroke. Segala bentuk hipertensi berkaitan dengan peningkatan risiko stroke. Untuk mewaspadainya, ukurlah tekanan darah secara berkala. Bila tekanan darah di atas 140/90 mmHg, itu artinya menderita hipertensi.

4. Olahraga teratur

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Aktivitas fisik terbukti memperbaiki aliran darah, menurunkan kadar kolesterol darah jahat, menurunkan berat badan dan menurunkan tekanan darah. Aktivitas fisik yang bersifat aerobik terbukti menurunkan risiko stroke. Olahraga terbukti pula menurunkan tekanan darah 4-9 mmHg.

5. Kelola stres

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Strees dapat meningkatkan tekanan darah, menurunkan daya tahan tubuh, menghambat regenerasi jaringan dan menurunkan sensitivitas insulin sehingga berujung pada diabetes melitus. Beberapa penelitian menemukan katian antara peningkatan risiko hipertensi dan stroke pada orang-orang yang mengalami masalah psikososial yang berat.

6. Hindari rokok

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Merokok secara konsisten berkaitan dengan peningkatan penyakit jantung, hipertensi, stroke dan kepikunan. Gangguan ini tidak hanya menyerang orang yang merokok, namun juga perokok pasif. Penelitian telah menunjukkan bahwa merokok akan menurunkan aliran darah ke otak.
Halaman 2 dari 7
Konsumsi lemak berlebih akan meningkatkan risiko kelebihan kolesterol dalam darah. Hindari makanan cepat saji karena kandungan natrium atau garamnya relatif tinggi. Untuk menangkal kolesterol, perbanyak konsumsi sayur dan buah.

Sayur dan buah terbukti mengandung banyak anti oksidan dan vitamin. Beberapa penelitian membuktikan manfaat anti oksidan dan serat untuk mengurangi lemak darah, menurunkan tekanan darah dan mencegah komplikasi kardiovaskuler.

Obesitas meningkatkan risiko stroke 2 kali lipat sebab membebani jantung dan merupakan permulaan meningkatnya kadar kolesterol, hipertensi dan diabetes melitus. Indeks massa tubuh di atas 25 disebut dengan berat badan berlebih dan di atas 30 disebut dengan obesitas.

Obesitas sentral secara konsisten meningkatkan risiko stroke 2-3 kali lipat. Tandanya adalah bila lingkar perutnya sebesar 102 cm atau lebih pada laki-laki, sedangkan pada perempuan sebesar 88 cm atau lebih. Obesitas dapat dikontrol dengan diet dan olahraga secara teratur.

Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko stroke. Segala bentuk hipertensi berkaitan dengan peningkatan risiko stroke. Untuk mewaspadainya, ukurlah tekanan darah secara berkala. Bila tekanan darah di atas 140/90 mmHg, itu artinya menderita hipertensi.

Aktivitas fisik terbukti memperbaiki aliran darah, menurunkan kadar kolesterol darah jahat, menurunkan berat badan dan menurunkan tekanan darah. Aktivitas fisik yang bersifat aerobik terbukti menurunkan risiko stroke. Olahraga terbukti pula menurunkan tekanan darah 4-9 mmHg.

Strees dapat meningkatkan tekanan darah, menurunkan daya tahan tubuh, menghambat regenerasi jaringan dan menurunkan sensitivitas insulin sehingga berujung pada diabetes melitus. Beberapa penelitian menemukan katian antara peningkatan risiko hipertensi dan stroke pada orang-orang yang mengalami masalah psikososial yang berat.

Merokok secara konsisten berkaitan dengan peningkatan penyakit jantung, hipertensi, stroke dan kepikunan. Gangguan ini tidak hanya menyerang orang yang merokok, namun juga perokok pasif. Penelitian telah menunjukkan bahwa merokok akan menurunkan aliran darah ke otak.

(pah/)
IDI (Belum) Pecat dr 'Cuci Otak'
73 Konten
Ikatan Dokter Indonesia menjatuhkan sanksi pemecatan pada dr Terawan Agus Putranto. Pernah jadi kontroversi dengan terapi 'cuci otak' berbasis Digital Substraction Angiography (DSA). IDI belum memecat dan masih memberi ruang pembelaan buat dr Terawan
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads