Antibiotik Tak Efektif Diberikan Saat Anak Pilek, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Antibiotik untuk Anak

Antibiotik Tak Efektif Diberikan Saat Anak Pilek, Ini Alasannya

M Reza Sulaiman - detikHealth
Rabu, 05 Feb 2014 08:07 WIB
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Hujan yang menerpa Indonesia beberapa minggu belakangan memang cukup meresahkan. Sebab risiko penularan penyakit flu, pilek dan batuk menjadi lebih besar. Belum lagi ancaman penyakit seperti diare yang muncul akibat banjir. Nah, biasanya jika anak sakit, orang tua sudah langsung membawa anak ke dokter untuk meminta resep antibiotik.

Menanggapi hal itu, dr Aditya Suryansyah, Sp.A dari RSAB Harapan Kita mengatakan bahwa demam pada anak tidak semuanya membutuhkan antibiotik. Jika demamnya karena bakteri, maka dokter wajib meresepkan antibiotik untuk diminumkan ke anak.

"Tapi kalau karena virus jangan. Baru satu hari panas langsung dikasih antibiotik itu tidak boleh," ujar dokter yang juga praktek di RSIA Buah Hati CIputat ini.

Senada dengan hal itu, Prof dr Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada mengatakan ada salah kaprah yang sudah terjadi selama berpuluh-puluh tahun di Indonesia. Apa itu?

"Jika anak demam, pilek dan batuk pasti menderita infeksi bakteri maka dari itu harus diberi antibiotik. Padahal pada anak, batuk, pilek dan demam merupakan gejala common cold yang hampir 90 persen penyebabnya adalah virus yang sama sekali tidak memerlukan antibiotik," ujarnya ketika dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (5/2/2014).

Meski begitu, kerap kali dokter meresepkan antibiotik pada pasiennya, tak terkecuali untuk anak-anak. Sebuah studi bahkan mengatakan bahwa 62 persen hasil dari konsultasi ke dokter akan berujung dengan resep antibiotik.

Menanggapi hal itu, profesor Farmakoepidemologi dan Farmakoekonomi ini menjelaskan bahwa tidak bisa dipastikan masalah tersebut berasal dari dokter. Menurutnya hal ini terjadi karena banyak orang tua yang mendesak dokter untuk menuliskan antibiotik pada resep obat anak mereka.

"Sehingga lama-lama dokter sudah otomatis meresep antibiotik tanpa perlu didesak. Bisa dibilang ini nggak tahu mana yang telur mana yang ayam," papar pria yang akrab disapa Prof Iwan tersebut.

Satu hal yang menurutnya penting adalah edukasi ke ke masyarakat tentang antibiotik. Sehingga masyarakat tidak lagi mengganggap bahwa antibiotik adalah obat ajaib yang dapat menyembuhkan demam, batuk dan pilek pada anak.

"Ingat, demam yang disertai batuk dan pilek bukan infeksi bakteri sehingga tidak boleh ditangani dengan antibiotik," ucapnya.

(vit/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT