Rabu, 05 Feb 2014 09:07 WIB

Antibiotik untuk Anak

Anak Batuk Lebih dari Sepekan, Saatnya Memberikan Antibiotik?

M Reza Sulaiman - detikHealth
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Orang tua mana yang tidak resah jika anaknya sibuk uhuk-uhuk alias batuk sepanjang hari. Apalagi jika batuknya tak kunjung reda, padahal sudah seminggu menyerang. Jika sudah seperti ini apakah sudah saatnya anak mengonsumsi antibiotik?

"Kalau anak batuk itu kan sistem pertahanan tubuh dia. Kalau ada benda asing pasti batuk. Kalau ada yang bilang anaknya batuk kering bukan berarti harus diberi antibiotik, namun batuknya tidak efektif sehingga dahaknya tidak keluar," ujar dr Marissa TS Pudjiadi, SpA, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (5/2/2014)

Senada dengan dr Marissa, dr Arifianto, Sp.A yang merupakan penulis buku 'Orang Tua Cermat Anak Sehat' juga tidak setuju anak yang batuk biasa buru-buru diberi antibiotik. Menurutnya, jika anak mengeluh sesak napas ketika batuk, bisa jadi itu pneumonia. Saat kondisi itu terjadi, maka segeralah ke dokter.

"Anak itu batuknya sering lama karena tertular berulang-ulang. Kalau di rumah tertular kakak, ayah, ibu. Sudah sembuh nanti ke sekolah tertular lagi oleh teman-temannya," jelas dokter yang akrab disapa dr Apin ini.

Kepala Divisi Farmakoepidemologi dan Farmakoekonomi FK UGM, Prof dr Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD, menyarankan agar pemberian antibiotik kepada anak yang sakit batuk dikonsultasikan dulu kepada dokter. Itu pun jika batuk si kecil tidak seperti batuk biasa.

"Kalau dahaknya sudah kuning kehijau-hijauan, berlangsung berhari-hari, makanan dan minuman yang kurang, biasanya terjadi pada hari ke 6 atau 7, boleh diberikan antibiotik setelah berkonsultasi ke dokter. Untuk sakit tenggorokan berlangsung satu atau dua hari, hanya memerlukan obat anti-inflamasi non-steroid, tidak perlu antibiotik," jelas Prof Iwan.

Studi yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American College of Chest Physicians (ACCP) di Atlanta menyebut anak-anak yang menderita batuk karena terkait dengan flu biasa tidak boleh diberi antibiotik. Meski antibiotik tidak efektif mengobati batuk, namun menurut peneliti Italia, banyak anak yang mendapat resep antibiotik. Demikian dikutip dari Medicinenet.

"Dalam pengalaman kami, antibiotik sering diresepkan oleh dokter umum untuk mengobati batuk pada anak-anak. Hal ini berkali-kali dilakukan untuk menenangkan orang tua," kata penulis utama studi, Dr Francesco de Blasio, dari Clinic Center Private Hospital di Naples, Italia.

Nyatanya, antibiotik yang diberikan kepada anak dengan batuk dan flu biasa tidak bisa mengatasi penyakit tersebut. Seorang pakar dari AS mengatakan orang tua kerap memaksa dokter untuk meresepkan antibiotik karena tidak tega melihat anaknya terbatuk-batuk setiap saat.

Dr Darcy Marciniuk, Presiden ACCP terpilih dalam rilisnya mengatakan antibiotik maupun obat lain diberikan tergantung pada penyebab batuknya. Bahkan dalam beberapa kasus bisa jadi tidak perlu memberi pengobatan kimia.

Dalam penelitian yang melibatkan 305 anak yang dirawat karena batuk parah akibat batuk biasa, 89 anak diberi antibiotik sedangkan 38 anak mendapat antibiotik dan obat batuk yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Sementara itu 44 anak hanya mengonsumsi obat batuk, dan sisanya 55 anak-anak tidak diberi pengobatan apapun.

Apa hasilnya? Ternyata tidak ada perbedaan hasil antara anak-anak yang minum obat batuk saja atau yang dikonsumsi bersama dengan antibiotik. Namun penelitian menunjukkan anak-anak yang diobati dengan antibiotik saja pulih lebih lambat.

Para peneliti mencatat bahwa beberapa obat efektif menekan batuk. Sementara antibiotik tidak lebih efektif dalam mengurangi batuk. Disebutkan juga bahwa antibiotik sangat membantu dalam mengobati infeksi yang dapat mengakibatkan batuk, tetapi pemberiannya tidak boleh berlebihan .

"Penggunakan antibiotik sebagai pengobatan untuk batuk tanpa adanya hal-hal yang dicurigai sebagai infeksi itu tidak perlu dan malah bisa berbahaya," kata de Blasio.

Menurutnya, penggunaan antibiotik yang berulang-ulang, terutama di saat yang tidak tepat, dapat menyebabkan reaksi alergi atau resistensi terhadap obat. Karena itu jika anak batuk, tanyakan pada dokter apakah terjadi infeksi bakteri. Jika tidak, orang tua tidak perlu memaksa dokter untuk meresepkan antibiotik.

(vit/vit)