Beda Dosis, Jangan Sembarang Beri Antibiotik pada Anak

ADVERTISEMENT

Antibiotik untuk Anak

Beda Dosis, Jangan Sembarang Beri Antibiotik pada Anak

M Reza Sulaiman - detikHealth
Rabu, 05 Feb 2014 10:04 WIB
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Antibiotik bukanlah 'obat ajaib' yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Penggunaannya pun tak boleh sembarangan, apalagi jika akan diberikan pada si kecil.

Tidak sedikit orang tua yang masih menganggap bahwa antibiotik adalah 'obat ajaib' yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, termasuk penyakit yang tidak disebabkan oleh bakteri seperti flu. Akibatnya, saat si kecil sakit, orang tua berinisiatif sendiri untuk membeli antibiotik tanpa resep di apotek.

Sembarangan mengonsumsi antibiotik tentu bukan tanpa risiko. Anak bisa saja jadi alergi terhadap antibiotik. Yang lebih parah, risiko resisten atau kebal obat bisa menyebabkan bakteri tak mempan lagi terhadap antibiotik.

"Tidak boleh sembarangan antibiotik dibeli di apotek, harus pakai resep. Artinya harus ada yang bertanggung jawab. Kalau sedikit-sedikit pakai antibiotik, makin lama bisa jadi alergi dan resisten," jelas dr Aditya Suryansyah, Sp.A, dokter spesialis anak yang berpraktik di RSAB Harapan Kita Jakarta dan RSIA Buah Hati Ciputat, saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (5/2/2014).

Menurut dr Adit, apotik seharusnya juga tidak boleh menjual antibiotik tanpa resep dokter. Jika sampai ketahuan melanggar, apotek tersebut bisa dilaporkan dan dicabut izin operasinya.

Selain menggunakan antibiotik tanpa resep, terkadang ada juga orang tua yang tidak menghabiskan satu resep antibiotik, lantas menyimpan dan menggunakannya kembali saat anak sakit di lain hari. Jika seperti ini apa bahayanya?

"Nggak boleh obat leftover (menggunakan obat sisa), apalagi kalau bentuknya puyer," tegas Prof dr Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD.

Dokter sekaligus Kepala Divisi Farmakoepidemologi dan Farmakoekonomi, FK UGM, ini menjelaskan bahwa obat puyer memiliki sifat menarik air, yang bisa rusak dalam 10 hari.

"Kalau sirup sudah dibuat untuk dihabiskan dalam sekian kali pemberian, kalau ada sisa berarti pemberiannya yang salah. Kalau pada anak kan tidak diberi kapsul atau tablet," terang Prof Iwan.

(mer/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT