Rabu, 05 Feb 2014 12:30 WIB

Antibiotik untuk Anak

Anak Sakit Gigi, Pasti Sembuh dengan Antibiotik? Belum Tentu

M Reza Sulaiman - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Namanya anak-anak pasti gemar mengonsumsi makanan yang manis-manis. Itulah mengapa anak rentan terkena gangguan gigi dan gusi, terutama karena bakteri dari makanan manis yang menumpuk di gigi. Tapi apakah masalah selesai hanya dengan meresepkan antibiotik?

Menurut Prof. drg. Heriandi Sutadi SpKGA (K)., Ph.D., sakit gigi sendiri ada dua macam, sakit gigi yang ada radangnya (dengan gejala seperti pendarahan dan pembengkakan pada gigi dan gusi) serta sakit gigi biasa.

Bila sakit giginya disebabkan oleh inflamasi atau peradangan maka pemberian resep antibiotik memang harus dilakukan. Sedangkan untuk sakit gigi biasa hanya perlu diberi obat analgesik saja.

"Sebenarnya sakit gigi itu kan karena perawatan gigi yang kurang. Sisa makanan karena jarang sikat gigi maka (membuat) bakteri tumbuh, terutama bakteri Streptococcus mutans sehingga mengubah sukrosa dirubah jadi asam. Asam itulah yang mengiritasi gigi. Bila memang radang ada sakit, pembengkakan, kemerahan, fungsinya berkurang baru bisa diberi antibiotik," terang mantan ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia tersebut saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (5/2/2014).

Prof Heri menambahkan akan lebih baik bila orang tua menggali akar permasalahan dari sakit gigi yang dialami anak, misal dengan memperbaiki kebiasaan anak yang malas menggosok gigi atau mengurangi konsumsi cokelat pada anak.

Lagipula Prof Heri mewanti-wanti efek samping lain dari konsumsi antibiotik pada gigi, yaitu gigi anak yang menguning. "Kalau diberikan terus-menerus dan partikel antibiotik akhirnya masuk ke pembuluh darah lalu menyebabkan gigi berubah warna dari dalam atau biasa disebut dengan intrinsik," kata Prof Heri.

Kondisi semacam ini juga tak dapat dihilangkan begitu saja dengan sikat gigi atau scaling, melainkan harus dengan bleaching atau pemutihan. "Beda dengan ekstrinsik, itu yang akibat makanan, vitamin, atau rokok, bisa dihilangkan dengan scaling dan sikat gigi," imbuhnya.

Namun guru besar UI itu juga mengingatkan antibiotik tak boleh diresepkan sembarangan karena fungsi dan dosis untuk masing-masing pasien berbeda, apalagi bakteri justru menjadi resisten bila terpapar antibiotik secara terus-menerus.

"Untuk itu pemberian antibiotik dilakukan minimal selama 4-5 hari (pasca serangan). Jika masih terjadi mungkin kurang dosis atau antibiotiknya yang harus diganti," sarannya.



(up/vit)