Rabu, 05 Feb 2014 14:33 WIB

Antibiotik untuk Anak

Belum Satu Tahun Bayi Sudah Diberi Antibioitik, Apa Dampaknya?

M Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta -

Saat bayi Anda demam hingga matanya berkaca-kaca, apa yang Anda lakukan? Beberapa orang tua langsung membawa bayinya ke dokter dan meminta resep antibiotik agar si kecil cepat sembuh. Padahal mungkin saja penyebab demamnya adalah virus yang tidak akan mempan dengan pemberian antibiotik. Nah apa jadinya jika bayi diberi antibiotik yang tidak tepat penggunaannya?

Antibiotik sebenarnya tidak diperlukan untuk setiap penyakit. Jika penggunaannya tidak tepat, antibiotik justru berpotensi membahayakan. Mengapa? Karena menghadapkan anak pada potensi efek samping obat. Karena terpapar antibiotik setiap kali sakit, maka si kecil mungkin perlu antibiotik yang lebih kuat pada saat dia sakit lagi. Hal ini juga dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri strain baru yang tahan terhadap antibiotik.

Selain itu jika sedikit-sedikit mengonsumsi antibiotik maka banyak bakteri tumbuh kuat dan menjadi kebal terhadap pengobatan. Demikian dikutip dari Whattoexpect, Rabu (5/2/2014).

"Kalimat kuncinya adalah jangan sedikit-sedikit menggunakan antibiotik. Kalau demam tidak semuanya butuh antibiotik, kecuali kalau karena bakteri itu harus. Kalau dokter dan orang tua yakin anak sakit karena bakteri baru kasih. Kalau karena virus jangan. Baru satu hari panas kasih antibiotik, jangan, itu tidak boleh," kata dr Aditya Suryansyah, Sp.A, spesialis anak yang berpraktik di RSAB Harapan Kita Jakarta dan RSIA Buah Hati Ciputat, saat dihubungi detikHealth.

Terkait efek samping, menurut dr Adit, setiap obat pasti ada obat sampingnya. "Mau obat alami, tradisional ataupun modern pasti ada efek samping. Hanya efek sampingnya itu minimal atau banyak," lanjutnya.

The Guardian pada pertengahan 2013 lalu melansir anak-anak yang menerima antibiotik pada tahun pertama kehidupannya, sebanyak 40 persen lebih mungkin untuk terus mengembangkan eksim. Hal itu mendasarkan pada studi yang dilakukan para peneliti Inggris.

"Salah satu penjelasan potensial adalah bahwa antibiotik dalam spektrum luas mengubah mikroflora usus, dan hal ini pada gilirannya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan cara mendorong perkembangan penyakit alergi," kata peneliti Dr Teresa Tsakok yang bekerja di rumah sakit St Thomas di London.

Temuan yang dipublikasikan dalam British Journal of Dermatology itu didasarkan pada review sistematis dari 20 penelitian sebelumnya tentang hubungan antara paparan pra dan postnatal terhadap antibiotik dan risiko eksim di kemudian hari.

Para penulis dari London, Nottingham dan Aberdeen menyimpulkan bahwa secara keseluruhan ditemukan hubungan positif yang signifikan antara resep antibiotik postnatal dan risiko kondisi kulit di kemudian hari. "Ada peningkatan 7 persen risiko eksim dalam setiap pemberian antibiotik selama tahun pertama kehidupan," kata para penulis studi.

dr Carsten Flohr, salah seoranf penulis studi mengatakan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan yang kompleks antara penggunaan antibiotik dan penyakit alergi merupakan prioritas bagi dokter dan bagi para pembuat kebijakan kesehatan. Sebab sudah ada indikasi keterkaitan penggunaan antibiotik di masa-masa awal kehidupan dengan risiko eksim di kemudian hari. Karena itu perlu diingat, jika penyakit anak disebabkan virus dan bukannya bakteri, maka orang tua tidak perlu memaksa dokter untuk meresepkan antibiotik.

"Pesannya adalah gunakan antibiotik sesuai porsinya," ujar dr Arifianto, SpA, penulis buku 'Orang Tua Cermat Anak Sehat' menanggapi penelitian tersebut.

(vit/up)