Rabu, 05 Feb 2014 15:05 WIB

Antibiotik untuk Anak

Jangan Semua 'Dibabat' Antibiotik, Ini Beda Infeksi Bakteri dan Virus

M Reza Sulaiman - detikHealth
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Antibiotik bukanlah obat segala penyakit. Obat yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter ini digunakan untuk membunuh bakteri jahat dalam tubuh. Jadi tidak setiap penyakit atau infeksi bisa sembuh dengan diberi antibiotik, apalagi yang diakibatkan oleh virus. Lalu bagaimana membedakan infeksi virus dan bakteri?

“Bedanya macam-macam, harus diperiksa keseluruhan. Kalau panas cepat meningkat tanpa radang, itu biasanya virus. Kalau panas tinggi dan lama (beberapa hari) mungkin itu bakteri,” tutur dr Aditya Suryansyah, SpA, dokter spesialis anak yang berpraktik di RSAB Harapan Kita Jakarta dan RSIA Buah Hati Ciputat, saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (5/2/2014).

Menurut dr Adit, untuk dapat membedakan infeksi yang disebabkan oleh virus dan bakteri, pasien harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dokter pun harus teliti kapan waktunya meresepkan antibiotik. Karena jika semua infeksi ‘dibabat’ antibiotik, bisa-bisa tubuh menjadi kebal dan tak mempan lagi terhadap antibiotik (resisten).

Saat dokter memang meresepkan antibiotik, yang perlu ditekankan adalah setiap antibiotik harus diminum habis. Jika tidak, bakteri yang sudah lemas dan hampir mati bisa saja hidup kembali ketika pengonsumsian obatnya dihentikan sebelum tuntas. Selain itu, pasien juga harus benar-benar memperhatikan waktu minum antibiotik.

“Yang paling penting adalah cara pemberian, dokter harus benar dalam penulisan resep. Jika 3x1 sendok teh, itu bukan maksudnya dalam sehari yang penting 3 kali minum obat. Namun setiap 8 jam satu kali minum obat. Sama halnya dengan dua kali sehari, maka sama dengan 12 jam sekali,” jelas Prof dr Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD, Kepala Divisi Farmakoepidemologi dan Farmakoekonomi, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Kenapa harus begitu? Prof Iwan menjelaskan pemberian obat dengan cara tersebut dilakukan agar selama periode itu kadar antibiotik tetap tinggi, sehingga penyembuhan tetap berjalan. Artinya, untuk antibiotik dengan resep 3 kali sehari tidak bisa diminum setiap harus makan.

“Kalau 3 hari sekali lalu obatnya diminum setiap habis makan, misalnya pertama jam 7 pagi, lalu jam 12 siang, terakhir jam 7 malam. Dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi kan 12 jam. Bakteri yang sudah lemas sudah mau mati hidup lagi karena tidak ada antibiotik akibat antibiotik sudah dibuang oleh tubuh,” tambah Prof Iwan.




(mer/vit)