ADVERTISEMENT

Rabu, 24 Des 2014 17:01 WIB

Macet dan Ancaman pada Kesehatan

Emosi Tak Terkontrol, Kemarahan Ekstrem Bisa Muncul Akibat Macet

Yulida Medistiara - detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Saat terjebak macet, pernahkah Anda merasa marah dan emosi? Menurut psikolog, hal ini wajar saja terjadi. Namun sebaiknya atasi emosi sebaik mungkin agar risiko penyakit lain tak muncul.

Menurut Rosdiana Setyaningrum, psikolog dari Diana and Associate, marah-marah dan stres karena macet sangat mungkin terjadi pada seseorang. Ini dimungkinkan karena ia tidak bisa memprediksi kapan bisa tiba di tempat tujuan.

"Mood-nya sih biasa saja, tapi suka meledak tiba-tiba karena hal kecil. Macet bisa bikin orang marah-marah karena capek sebenarnya. Panik juga bisa karena merasa takut akan telat atau kegiatannya terganggu," ujar perempuan yang akrab disapa Diana kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (24/12/2014).

Kemarahan yang kerap muncul saat stres ini sering disalahartikan sebagai kondisi Intermittent Explosive Disorder. Namun menurut Diana, kemarahan akibat macet kemungkinan tak sampai mengarah pada diagnosis tersebut.

"Tidak, Intermittent Explosive Disorder itu kalau terjadi terus-menerus dengan selang waktu tertentu, tidak sesederhana kalau terjebak macet. Biasanya karena pola asuh, genetik, atau masalah kimiawi otak," jelas Diana.

Baginya, orang yang stres karena macet memang bisa jadi lebih emosional, tapi belum tentu lantas bisa dikatakan sebagai kondisi Intermittent Explosive Disorder. Seseorang bisa dikatakan mengalami kondisi Intermittent Explosive Disorder.

"Kalau sudah disorder kan harus memenuhi kriteria tertentu misalnya sering terjadi, sesaat meledak, setelah itu merasa biasa lagi. Diselingi masa tenang, lalu kejadian lagi, terjadi selama minimal 6 bulan. Diagnosis harus hati-hati dengan prosedur pemeriksaan psikologis," terangnya.

Nah, untuk bisa mengatasi stres kala menghadapi macet, cobalah melakukan teknik napas dua menit ala psikolog Damien Adler dari Victoria's Mind Life Clinic. Teknik ini dilakukan dengan memperlambat napas.

Ketika stres, seseorang cenderung akan bernapas lebih cepat. Akibatnya, keadaan ini akan mengacaukan kandungan gas dalam darah yang bisa berujung pada beberapa problem seperti pusing, tubuh terasa mengawang, dan kelelahan.

"Dengan memperlambat napas, efek itu bisa dihindari. Selain itu, memperlambat napas saat stres juga berguna untuk menurunkan detak jantung dan tekanan darah hingga Anda merasa lebih rileks dan berpikir jernih, stres pun berkurang," tutur Adler.

Bagaimana teknik melambatkan napas? Mula-mula, cobalah bernapas lewat hidung. Dengan begini, menurut Adler Anda akan fokus pada dua hal yaitu kecepatan bernapas yang dilambatkan, dan kedalaman bernapas yang justru ditingkatkan. Untuk bernapas lebih dalam, lakukanlah pernapasan perut, bukan diafragma.

"Cara terbaik memastikan Anda bernapas lewat perut yaitu letakkan tangan di perut dan ketika Anda bernapas tangan pun naik turun, saat itu pernapasan perutlah yang Anda lakukan," imbuh Adler.

Untuk memperlambat kecepatan bernapas, Adler memberi tips cobalah menarik napas selama tiga detik, lalu tahan satu detik, barulah hembuskan napas perlahan selama empat detik. Lakukan teknik ini selama dua menit.

(ajg/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT