Rabu, 13 Mei 2015 08:03 WIB

Tertawa dan Kesehatan

Seperti Ini Lho Prosesnya Mengapa Seseorang Bisa Tertawa

Radian Nyi Sukmasari, Andara Nila Kresna - detikHealth
Jakarta -

Semua orang pastinya pernah tertawa baik ketika melihat hal yang lucu atau justru ketika mengingat kembali pengalaman konyol yang dialami. Sebenarnya, bagaimanakah prosesnya hingga seseorang bisa tertawa saat melihat sesuatu yang lucu?

"Umumnya tertawa adalah bentuk dari kegembiraan. Tertawa adalah hasi dari lepasnya dopamin pada otak dan terutama endorfin pada sirkuit-sirkuit kesenangan pada otak. Tertawa merupakan respon dari otak dan koordinasi dari gerakan otot wajah," terang dr dr Roslan Yusni Al Imam Hasan SpBS saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (13/5/2015).

Pria yang akrab disapa dr Ryu ini mengatakan tertawa dan tersenyum adalah bahasa universal yang menunjukan kebahagiaan seseorang. Pusat tertawa ada pada 4 sirkuit yaitu wajah, suara, motorik dan sensorik. Nah, Saraf, otot dan tulang yang dilibatkan dalam proses tertawa yaitu saraf-saraf pada pita suara, otot mulut, lidah dan wajah dan tulang wajah.

Selain sebagai respons psikologis terhadap humor dan tindakan untuk membagi perasaan tertentu, tertawa bisa juga merupakan ekspresi lega setelah menghadapi keadaan ekstrem atau berbahaya, demikian dikatakan praktisi neurosains terapan Anne Gracia dari Smart Brain Energy. Proses tertawa dimulai pada saat ada stimulus tertentu yang menyebabkan tubuh merespons dengan sebuah gerakan tidak terkendali, namun pada saat yang sama mengeluarkan vokalisasi yang ritmis.

Baca juga: Hilangkan Stigma, Pasien RSJ Grogol Unjuk Kemampuan Menari dan Menyanyi

Saat menonton serial komedi misalnya seseorang akan tertawa karena hal itu merupakan hasil analisa otak terhadap tayangan yang ditampilkan. Namun, dikatakan Anne tawa yang terjadi pada saat seseorang berkumpul dengan orang lain akan muncul secara spontan. Hal ini adalah respons otak untuk membagi perasaan aman dan nyaman juga untuk mempererat ikatan antar individu dalam kelompok.
 
"Saraf kranial wajah berperan aktif pada proses tertawa, saraf tsb akan mengirimkan sinyal pada otak. Otot-otot daerah wajah akan berkontaksi dan menstimulasi daerah bibir dan rahang, sehingga tulang rahang bawah akan bergerak," tutur Anne.

Pada saat tertawa, lanjut Anne, aktivitas otak pada lobus frontal yang mengontrol sosial-emosional menjadi sangat aktif. Pusat bahasa pada korteks otak bagian kiri akan menganalisa kata dan pola dari stimulus yang diberikan, misalnya lelucon. Nah, kemudian area otak bagian kanan akan menganalisa untuk menemukan bagian yang bisa memancing tawa.

Nah, ingin tahu lebih lanjut soal kaitan tertawa dengan kesehatan serta fakta-fakta unik yang bisa terjadi saat seseroang tengah tertawa? Baca terus paparannya di ulasan khas detikHealth kali ini ya!

(rdn/up)