Rabu, 20 Mei 2015 15:09 WIB

Otak Kanan Vs Otak Kiri

Agar Optimal, Bakat Perlu Dilatih Sejak Kecil

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta -

Optimalnya tumbuh kembang anak tidak semata dipengaruhi oleh bagus tidaknya gen yang diwariskan kedua orang tua atau pemberian nutrisi yang teratur. Kuncinya juga dari stimulasi atau rangsangan kepada si kecil.

Nah ada yang beranggapan bakat dan minat anak ditentukan oleh stimulasi yang diberikan orang tuanya. Jika si orang tua cenderung memberikan stimulasi untuk otak kanan atau kirinya, maka bakat dan minat si anak juga akan cenderung mengikuti.

Apakah itu artinya bakat yang dominan otak kanan atau kiri bisa dilatih sejak kecil? dr Roslan Yusni Al Imam Hasan SpBS dari RS Bethsaida Serpong kurang sepakat dengan hal ini.

"Intinya, jika anak sudah bakat, misal bernyanyi ya, biarkan saja apa yang ada di dalam diri anak itu bekerja sebagaimana mestinya," tegasnya ketika berbincang dengan detikHealth dan ditulis Rabu (20/5/2015).

Baca juga: Tangkupkan Kedua Tangan dan Sedekap, Bukan Cara Ungkap Dominasi Otak

Bagi dokter pemilik akun @ryuhasan tersebut, bakat anak muncul secara alami, terlepas dari stimulasi yang diberikan oleh orang tuanya.

Namun jawaban sedikit berbeda dikemukakan dr Yuda Turana, SpS. Menurutnya, bakat anak dapat dibentuk sedari kecil.

"Namun yang terpenting adalah bagaimana anak menyukai tentang satu hal, sehingga anak akan terus belajar mendalami satu hal tersebut," jelas staf pengajar Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran UNIKA Atmajaya tersebut.

Itu artinya stimulasi yang diberikan orang tua hanya akan merangsang kecenderungan otak maupun bakatnya, tapi tidak serta-merta membentuk bakat dan minat itu sendiri.

Baca juga: Guna Asah Kemampuan Anak, Tes Minat dan Bakat pun Perlu Dilakukan

Sebelumnya pakar stimulasi anak, Irene F Mongkar menjelaskan bahwa stimulasi pada anak terdiri atas dua jenis, yaitu stimulasi sensorik dan motorik. Stimulasi sensorik merupakan rangsangan yang melibatkan 5 indera pada anak yaitu penciuman, pendengaran, penglihatan, peraba, dan pengecap. Sedangkan stimulasi motorik berupa pemberian kesempatan pada anak untuk menggunakan tangannya, kesempatan anak untuk bergerak, dan kesempatan untuk berbicara.

"Jadi misalnya kalau lagi kasih makan pisang ke anak, nah sekalian dijelasin ini lho kulitnya, ini pisangnya, dan kasih kesempatan juga anak untuk pegang pisangnya agar dia bisa meraba-raba dan menggerakkan tangannya. Ini salah satu bentuk stimulasi sensorik sekaligus motorik," jelas Irene.

Stimulasi ini sebaiknya diberikan pada anak di usia antara 6 bulan hingga 6 tahun, yaitu masa-masa di mana perkembangan otak anak sedang maksimal-maksimalnya.

"Tapi jangan dipaksa," imbuhnya. Sebab stimulasi ini harus diberikan dengan frekuensi, intensitas dan durasi yang teratur, sehingga balita yang menjadi subyek juga harus dalam keadaan sehat dan cukup istirahat.



(Rahma Lilahi Sativa/Nurvita Indarini)