Rabu, 03 Jun 2015 19:05 WIB

Ulasan Khas Hamil Muda

Kenali, Faktor-faktor yang Bisa Bikin Wanita Keguguran

Nita Sari - detikHealth
Topik Hangat Ulasan Khas Hamil Muda
Jakarta - Risiko keguguran bisa saja dialami oleh semua wanita yang sedang mengandung. Lantas, sebenarnya apa sajakah penyebab seorang calon ibu bisa kehilangan bayinya?

"Penyebabnya sama dengan faktor penyebab flek. Ada kelainan kromosom atau genetika dari janinnya sendiri," kata dr Gde Suardana SpOG dari RSAB Harapan Kita saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (3/6/2015).

Karena ada kelainan kromosom pada bayi, lanjut dr Gde, maka tubuh ibu menganggap bayi sebagai benda asing. Sehingga, tubuh ibu berusaha mengeluarkan si janin sebagai salah satu mekanisme membuat proteksi. Penyebab keguguran berikutnya bisa disebabkan kurangnya hormon progesteron.

Selain itu, keguguran juga bisa disebabkan faktor-faktor lain seperti infeksi pada ibu yang menyebabkan janin tidak berkembang. Infeksi tersebut bisa karena bakteri, virus, ada juga karena faktor nutrisi, makanan, dan bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit lain.

dr Gde menjelaskan, pada dasarnya keguguran adalah berhentinya kehamilan. Ada abortus imminens yaitu ancaman berhenti kehamilan, sedangkan abortus incomplete yakni berhentinya kehamilan dan keluarnya produk hamil seperti plasenta, ketuban, atau janin. Lantas, apa saja gejala yang muncul ketika ibu hamil mengalami keguguran?

"Terjadinya flek atau perdarahan. Tetapi kadang-kadang tidak selalu muncul gejala. Ada orang keguguran tetapi tidak mengeluh. Tanda-tanda yang lain hanya dilihat melalui USG. Misalnya kantong kehamilan ada tapi isinya tidak ada. Itu yang disebut blighted ovum," jelas dr Gde.

Baca juga: Disangka Sudah Keguguran Ternyata Masih Hamil

Untuk ibu yang pernah keguguran menurut dr Gde belum tentu akan lebih mudah mengalami keguguran berulang. Jika penyebabnya menetap, maka bisa berulang, contohnya saja jika ada kelainan kromosom yang diturunkan dari ayah atau ibunya. Jadi, setiap ada kehamilan akan ada kecenderungan bayinya mengalami keguguran lagi. Sebaliknya, jika penyebabnya tidak menetap maka bisa tidak berhubungan dengan kehamilan berikutnya. Penyebab yang tidak menetap misalnya saja kekurangan progesterone kemudian anemia yang jika tidak diobati infeksi atau nutrisinya maka keguguran bisa terulang lagi.

Untuk risiko keguguran berulang pada kasus aborsi, dr Gde mengTakan tergantung dari indikasi aborsinya, kemudian di mana dan bagaimana. Jika legal dilakukan di rumah sakit, dilakukan oleh dokter atas indikasi medis yang tepat dan alat-alatnya steril, maka tidak ada pengaruhnya terhadap kehamilan selanjutnya. Berbeda dengan kasus aborsi ilegal menggunakan alat-alat yang tidak steril atau caranya tidak benar, serta menggunakan obat-obat yang dosisnya tidak tepat.

"Itu semua mempunyai kecenderungan untuk mengalami komplikasi perdarahan, infeksi, bahkan kehilangan nyawa. Bagi orang-orang yang melakukan aborsi illegal sering terjadi komplikasi, infeksi yang menyebabkan rahimnya menempel, mengalami perdarahan yang luas, bahkan kesulitan hamil selanjutnya," tegas dr Gde.

Guna menghindari risiko keguguran, salah satu cara yang bisa dilakukan para calin orang tua yakni sama dengan cara pencegahan flek. "Harus rutin memeriksa ke dokter kandungan, supaya mengetahui ada atau tidaknya faktor-faktor tersebut," pungkas dr Gde.

Baca juga: Bahaya Melakukan Aborsi



(rdn/up)
Topik Hangat Ulasan Khas Hamil Muda