Rabu, 06 Apr 2016 16:00 WIB

Cerdas Memberi MPASI

Trik Responsive Feeding Agar Anak Makan dengan Lahap dan Tanpa Paksaan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Topik Hangat Cerdas Memberi MPASI
Jakarta - Saat anak mulai memasuki fase makan dengan makanan pendamping ASI atau MPASI, berbagai masalah mulai muncul. Termasuk respons anak tak mau makan sama sekali. Bagaimana mengatasinya?

Menurut dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SpA, tanda responsive feeding adalah ketika anak mau atau tertarik terhadap makanan dan memberi respons bila diberi makan. Patut diingat, masing-masing bayi punya respons bermacam-macam.

"Yang mudah mungkin tak ada masalah. Tapi sebaliknya, anak yang susah makan sejak awal sebaiknya perhatikan preference rasa yang bayi suka apakah manis, gurih atau tawar," ujar wanita yang akrab disapa dr Tiwi ini saat berbincang dengan detikHealth.

Bayi-bayi ASI secara teori seharusnya lebih mudah makan, karena sejak disusui ia sudah mengenal macam-macam rasa dari makanan ibu yang keluar melalui ASI. Meskipun demikian, tetap saja tiap anak memiliki respons unik dan tak semuanya mudah diberikan makanan.

Baca juga: Kalau Begini Kondisinya, MPASI Tak Mesti Diberikan Saat Bayi Usia 6 Bulan

"Kalau anak tutup mulut ya berati hentikan kegiatan makan lalu diulang kembali 2-3 jam lagi. Mungkin dengan rasa yang berbeda. Jangan lupa perhatikan jenis makanan yang disukai anak," pesan dokter yang praktik di RS Bunda Jakarta ini.

Jika memang orang tua sudah memahami ada satu jenis makanan yang kurang disukai anak, maka sebaiknya jangan terlalu dipaksakan. Orang tua dianjurkan bisa memasukkan makanan yang tak disukai tersebut dalam variasi jenis atau rasa yang berbeda. Sehingga anak akan tetap mengonsumsinya dan belajar untuk menyukai makanan tersebut.

"Membuat makanan yang punya citra rasa enak dengan aroma sedap juga kadang dapat meningkatkan selera anak," imbuhnya.

Pemilik akun Instagram @drtiwi ini mengungkapkan, saat anak sudah tampak enggan makan, itu berarti anak sudah tidak nyaman. Jika sudah seperti ini, maka sebaiknya jangan dipaksakan. Ini akan membuat anak justru kesal dan semakin tidak menyukai aktivitas makan karena merasa 'dipaksa'.

"Jangan sampai bayi sebal lihat ibu bawa sendok, sudah nggak nyaman dia. Kalau bisa bikin bayi menunggu waktu makan atau penasaran," ujarnya.

Namun patut diperhatikan juga jika anak justru 'kebablasan' menyukai aktivitas makan dan tidak mau berhenti meskipun makanannya sudah habis. Misalnya, porsi anak usia 8-9 bulan adalah 150 ml tapi dia tetap mau makan terus. Orang tua juga harus bisa mengalihkan keinginan tersebut, misalnya dengan memberikan buah.

Sebab menurut dr Tiwi, porsi makanan anak tetap harus disesuaikan dengan ukuran lambungnya yang juga masih kecil. Nah, pada anak yang seperti ini, boleh ditambahkan porsi buahnya karena buah memberi efek kenyang tanpa efek gemuk untuk anak.

Baca juga: Jangan Lupakan 1 Hal Penting Ini Saat Beri si Kecil ASI Eksklusif


(ajg/up)
Topik Hangat Cerdas Memberi MPASI