Senin, 20 Jun 2016 16:02 WIB

Kulit Belang karena Vitiligo

Vitiligo Tak Bisa Sembuh 100 Persen? Ini Kata Dokter

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Jika seseorang sudah didiagnosis dengan vitiligo, dikatakan bahwa ia tidak akan bisa sembuh total 100 persen. Sebab vitiligo memiliki sifat kambuhan. Benarkah demikian?

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dari Skin and Aesthetic Clinic RS Pondok Indah-Puri Indah, dr Suksmagita Pratidina, SpKK, atau dr Gita, vitiligo memang jarang bisa sembuh total. Pengobatan hanya bisa mengurangi, itupun harus dilakukan bertahun-tahun.

"Tapi tidak bisa 100 persen mencegah. Jadi sebenarnya pengobatan vitiligo itu berlangsung sepanjang tahun kadang sampai seumur hidup, dengan relaps, atau kambuhan. Tidak langsung selesai," ujar dr Gita kepada detikHealth baru-baru ini.

Apa saja yang bisa memicu kekambuhan vitiligo? Di antaranya disebutkan dr Gita adalah stres atau ada gesekan berulang. Gesekan atau radang mencetuskan sel-sel radang yang bisa membuat pigmen kulit rusak. "Karena penyebabnya masih banyak teori, jadi belum ada penyebab yang pasti," imbuhnya.

Baca juga: Ada Riwayat Vitiligo di Keluarga, Pasti Menurun ke Anak atau Cucu?

Demikian juga disampaikan oleh dr Radityo Anugrah, SpKK atau dr Radit dari Bamed Skin Care. Menurutnya tujuan dari pengobatan vitiligo adalah kesembuhan 100 persen. Tapi memang, ada beberapa jenis vitiligo yang sulit diobati.

"Vitiligo segmental cukup sulit diobati tapi acrofacial lebih sulit. Yang sulit diobati juga vitiligo yang letaknya di persendian. Sepengalaman saya ada yang bisa sembuh, tapi lagi-lagi itu bergantung pada luas dan lokasi bercak, usia, serta penyakit yang menyertai," terang dr Radit.

Terkait kambuhnya, dr Radit juga membenarkan bahwa trauma mekanik jelas memicu kambuhnya vitiligo. Hal ini disebut sebagai 'koebner phenomenon'. Gesekan seperti garukan, luka, bahkan memakai celana yang terlalu sempit dikatakan bisa memicu kambuhnya vitiligo.

"Kalau stres kenapa bisa memicu vitiligo kambuh, kan karena oksidan bebasnya jadi meningkat. Makanya pengobatan termasuk konsumsi antioksidan," ujar dr Radit.

(ajg/vit)