Untuk memastikannya, tim peneliti dari University melakukan pengamatan terhadap 612 partisipan wanita. Lebih dari dua-pertiga di antaranya pernah terserang depresi berat atau gangguan bipolar.
Baca juga: Sama-sama Olahraga, Tapi Jogging Lebih Baik bagi Otak daripada Angkat Beban
52 orang kemudian diminta menjalani tes khusus sembari melakukan scan otak dalam waktu yang bersamaan. Dari situ ketahuan bahwa mereka mengalami kesulitan mengerjakan tes, sebab aktivitas ini membutuhkan konsentrasi secara berkelanjutan.
Begitu juga saat mereka diminta bereaksi dengan cepat ketika diperlihatkan huruf-huruf tertentu melintas sebentar di layar monitor. "Mereka memperlihatkan reaksi yang lebih lambat bila dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kondisi mental," terang peneliti Kelly Ryan seperti dikutip dari jurnal Brain, Selasa (12/5/2015).
Namun dari hasil scan terbaca bahwa mereka yang mengidap depresi atau gangguan bipolar memperlihatkan aktivitas otak yang berbeda bila dibandingkan dengan wanita yang sehat, terutama di bagian posterior parietal cortex kanannya.
Bagian otak ini bertanggung jawab membantu mengendalikan 'fungsi eksekutif', yaitu aktivitas yang melibatkan daya ingat dan kemampuan menyelesaikan masalah.
"Bedanya, pada pengidap depresi, aktivitas bagian otaknya yang satu ini lebih tinggi daripada mereka yang sehat, sedangkan pada pengidap gangguan bipolar, aktivitasnya lebih rendah," papar Ryan, yang juga seorang ahli psikologi saraf.
Baca juga: Stop Mengeluh! Pekerjaan yang Menjemukan Justru Menyehatkan Otak
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(lll/up)











































