Kamis, 18 Jun 2015 09:00 WIB

Young and Healthy

Kisah dr Meta, Sejak Kecil Senang Bantu Ayahnya Praktik di RS

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
dr Meta Hanindita, SpA (Foto: Dok. Pribadi)
Topik Hangat Young and Healthy
Jakarta - Ayahnya yang seorang dokter menginspirasi Meta Hanindita untuk memiliki profesi yang sama. Bahkan sejak kecil, dirinya senang membantu sang ayah praktik di rumah sakit (RS). Lalu apa yang dilakukan Meta kecil saat membantu ayahnya?

"Mulai dari sekadar mencatat nama pasien, menimbang berat badan pasien, sampai mengajak bermain pasien yang menangis," kata Meta kepada detikHealth dan ditulis pada Kamis (18/6/2015).

Usai menyelesaikan pendidikan dokternya, di tahun 2010, dr Meta melanjutkan pendidikan dokter spesialis anak. dr Meta memiliki alasan tersendiri mengapa ia memutuskan untuk menjadi dokter anak. Menurutnya, kesehatan anak yang merupakan generasi penerus bangsa sangat penting. Apalagi ayah dr Meta dulunya dokter anak.

"Saat praktik menjadi dokter anak buat saya sih tantangannya kalau orang tua pasien meragukan. Saya pernah dikira mahasiswa lho, ha ha ha. Tapi saya nggak pernah masukin ke hati sih. Misalnya si ibu nanya dokternya yang mana ya, pas saya bilang saya dokternya ibunya baru ngeh karena sebelumnya saya dikira mahasiswa," ucap dr Meta sambil terbahak.

Dalam perjalanan studinya, dr Meta menempuh pendidikan dalam kondisi hamil dan menjadi seorang ibu muda. Berbagai hal yang menyedihkan sampai unik pun dialami dr Meta.

Baca juga: Wah, Relawan Ini Galang Dana untuk Dokter di Pedalaman dengan Berkuda

Menempuh pendidikan dokter spesialis anak sekaligus menjalankan peran sebagai istri dan ibu pastinya membuat waktu dr Meta bersama keluarga otomatis amat berkurang. Saat masih menyusui, merupakan perjuangan bagi dr Meta memompa ASI setiap tiga jam sekali saat bekerja. Belum lagi jika sang anak, Arshiya Nayara Avanisha (4) sedang sakit sementara dr Meta harus jaga di rumah sakit.

"Rasanya sedih deh kalau ada yang ngomong 'Kok ngurusin anak orang lain sakit, anak sendiri sakit malah enggak diurusin sendiri'. Suami saya kan sama-sama sibuk, jadilah selama masa pendidikan, jarang banget ketemunya. Belum lagi kalau pas saya lagi dinas di luar kota dan dia malah dinas di luar pulau. Kalau begitu sih, Naya (nama panggilan sang putri, --red) saya bawa sekalian dinas bareng saya," kisah dr Meta.

Pernah di tahun 2013, ketika Naya berusia 2 tahun, dr Meta memboyong putrinya itu dinas ke RSUD Balung, Jember, Jawa Timur selama satu bulan. Kala itu, dr Meta turut memboyong sang babysitter dan juga asisten rumah tangga (ART) karena si ART tidak mau ditinggal sendirian. Selama satu bulan itu pula lah dr Meta, Naya, babysitter, dan si mbak tinggal di paviliun RS.

Awal tiba di Balung, Naya memang sempat rewel karena di sana tidak ada hal-hal yang bisa jadi objek bermain Naya seperti di rumahnya di Surabaya. Namun, lama-lama gadis cilik itu bisa beradaptasi bahkan sering bermain di sawah, melihat bebek, dan setiap pagi naik becak. Selama dr Meta praktik atau operasi, Naya akan jalan-jalan atau bermain di sekitaran RS bersama baby sitter dan si mbaknya.

"Alhamdulillah Naya mau dan nggak rewel. Tapi dia suka bikin merinding sendiri jadi sengaja nggak saya ajak keliling RS. Pernah tiba-tiba Naya bilang kenapa ada orang tua pakai baju putih ngeliatin dia, atau 'itu siapa Ma, mbak rambut panjang di situ', padahal nggak ada orang," kata dokter yang praktik di RSUD Dr Soetomo Surabaya ini.

Pernah di akhir pekan, dr Meta mengajak Naya, babysitter, dan si mbak pergi ke kota Jember dan menginap di hotel. Tapi malam itu, lagi-lagi si kecil Naya berbicara aneh-aneh. Ia mengaku dipandangi oleh seseorang yang wajahnya rata. Akhirnya, dr Meta beserta 'rombongan' pun kembali lagi ke RS. Dengan mengajak Naya dinas menurut dr Meta bisa membuat putrinya itu mengerti pekerjaan sang mama. Kadang, justru Naya yang suka mendorong dr Meta untuk segera berangkat kerja. Naya sering berkata 'Kasian kalau adik bayi sakit terus, ayo Mama jangan bobo melulu, cepet ke RS'. Bahkan dalam doa si kecil, nama mamanya sering disebut-sebut.

Selama menempuh pendidikan dokter spesialis anak, memang diakui dr Meta sang suami sering dinas ke luar kota. Dalam setahun, paling-paling sang suami hanya pulang ke rumah kurang lebih dua bulan. Selain dinas ke Balung, dr Meta juga pernah dinas ke Soe, Kupang selama satu bulan. Praktik di RSU Soe menurut dr Meta menjadi pengalaman yang cukup mengesankan. Apalagi, di sana banyak kondisi masyarakat yang memprihatinkan, salah satunya karena sarana dan prasarana yang terbatas.

"Banyak sekali kondisi masyarakat yang memprihatinkan. Misalnya di sana kan sulit air jadi sedih deh pokoknya. Awal dinas di sana aja saya nangis terus tapi lama-kelamaan sudah terbiasa," kata wanita kelahiran Bandung, 14 Februari 1984 ini.

Beruntung, selama pendidikan dijalani, keluarga benar-benar mendukung dr Meta, termasuk juga sang suami, dr Hari Nugroho, SpOG. "Misalnya bulan ini saya sebulan penuh tugas di luar pulau, suami harus stand by terus, demikian juga sebaliknya. Waktu masih menyusui, suami rela lho bolak-balik, dari RS ke rumah untuk mengambil Naya, membawa Naya ke RS lagi untuk saya susui, setelah selesai mengantar Naya pulang, lalu kembali lagi bekerja di RS," tutur dr Meta.

Karena stres pekerjaan dan lelah, sempat ASI dr Meta tak keluar saat dipompa. Sang suami juga dengan senang hati menjadi kurir ASI. Saat dr Meta ada jadwal jaga di RS dan kebetulan Naya sakit, dr Hari siap sedia di sebelah Naya mulai membuatkan makanan sampai meminumkan obat.

Tepat di bulan Februari 2015, dr Meta yang kala itu berusia 30 tahun berhasil menyelesaikan pendidikan dokter spesialis anak dalam kurun waktu 4 tahun. Sebab, selama satu tahun, dr Meta mengambil waktu 1 tahun untuk cuti hamil dan melahirkan.

Baca juga: Dokter Ini Ciptakan Aplikasi untuk Jangkau Pasien Katarak di Pedalaman Afsel

(rdn/up)
Topik Hangat Young and Healthy