Diceritakan oleh sang ibu, awalnya Taylor mengeluhkan tubuhnya terasa lemas. Ia juga berulang-ulang kali dan merasa ada nyeri di bagian perutnya. Pipinya tampak cekung dan kulitnya kebiruan.
Ia kemudian menemui Dr Michelle Watts, yang bekerja di Kirriemuir Health Centre, ini kemudian melakukan beberapa pemeriksaan singkat pada Taylor. Namun berdasarkan kondisi dan keluhan Taylor, Watts gagal memberikan diagnosis yang tepat. Ia justru memberikan resep obat tidur untuk Taylor, karena ia dikira mengidap depresi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Asma Tak Sembuh-sembuh, Nicole Ternyata Idap Penyempitan Paru-paru Langka
"Dokter tersebut tidak berinisiatif untuk meminta anak saya melakukan tes urine atau darah. Ia bahkan tidak menuliskan di catatan medis bahwa anak saya sakit perut, padahal jelas Taylor mengeluhkannya," tutur sang ibu, seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis (17/3/2016).
Keesokan harinya, keluarga Taylor kembali menghubungi Watts karena kondisinya yang tak kunjung membaik. Kondisi Taylor saat itu sudah semakin memburuk karena ketoasidosis diabetik. Kondisi yang ditandai oleh ketosis (peningkatan kadar keton dalam darah) dan asidosis (keasaman darah meningkat).
Ia muntah beberapa kali, merasa nyeri di perut kembali dan tangannya mulai teraba dingin. Lagi-lagi, Watts tidak memberikan tes apapun dan meresepkan obat yang sama seperti sebelumnya. Tak kunjung diobati dengan tepat, Taylor meninggal keesokan harinya.
"Setelah ia meninggal, pemeriksaan menemukan bahwa ia mengidap diabetes tipe 1. Dengan kondisi ini, saya diberi tahu bahwa Taylor seharuskan disuntikkan insulin setiap hari. Tapi dokternya tak melakukan itu," imbuh ibu Taylor.
Sang ayah, Malcolm, mengaku sangat kehilangan putrinya. Ia sempat tak terima atas kesalahan diagnosis yang dilakukan oleh Watts hingga akhirnya Taylor meninggal. "Kami semua benar-benar sedih, ia gadis yang sangat baik," ujarnya.
Sampai saat ini, kasus misdiagnosis ini masih diperiksa oleh pihak yang berkaitan. Watts sendiri sempat mengakui kesalahan diagnosisnya, namun ia belum mau memberikan keterangan lebih lanjut.
Baca juga: Cerita Chris, Baru Sadar Dirinya Memiliki Autisme di Usia 33 Tahun
(ajg/up)











































