Salut! Bocah dengan Gagal Ginjal Ini Kumpulkan Donasi Mainan untuk Pasien Anak

Salut! Bocah dengan Gagal Ginjal Ini Kumpulkan Donasi Mainan untuk Pasien Anak

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 22 Jun 2016 14:02 WIB
Salut! Bocah dengan Gagal Ginjal Ini Kumpulkan Donasi Mainan untuk Pasien Anak
Foto: Heidi Hoven
Los Angeles - Mainan menjadi salah satu hal yang bisa membantu pasien anak mengatasi kebosanannya ketika menjalani terapi di Rumah Sakit (RS). Namun, hal itu tak dirasakan oleh bocah bernama Kadin Hoven (10) yang mengalami gagal ginjal stadium tiga.

Kadin lahir dengan ginjal yang tidak berfungsi dan dia sudah menjalani dua transplantasi. Kini, Kadin sedang menunggu proses transplantasi ke-3 di Mattel Children's Hospital UCLA. Sayangnya, selama menjalani terapi di RS tersebut selama bertahun-tahun, Kadin melihat bahwa stok mainan di RS itu menipis.

"Itu membuat dia sedih. Seperti kita tahu, mainan berguna sekali bagi anak yang sedang menjalani terapi di RS. Untuk itulah melalui sekolah, teman, dan keluarga, saya membantu mewujudkan ide Kadin yakni mengumpulkan sumbangan mainan," kata ibu Kadin, Heidi Hoven yang juga seorang guru TK, kepada CNN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya mainan, Heidi dan beberapa 'panitia' pengumpulan mainan pun menerima cek yang kemudian mereka cairkan dananya untuk membeli makanan. Hingga minggu lalu, sudah terkumpul enam gerobak besar mainan yang disumbangkan ke Mattel Children's Hospital.

Menurut spesialis anak di Mattel Children's Hospital, Stephanie Talley, apa yang dilakukan Kadin patut diapresiasi. Apalagi, mengingat Kadin yang juga harus berjuang melawan penyakitnya. Menurut Talley, hal sepele seperti mainan bisa memberi manfaat besar bagi pasien anak.

Kadin dan donasi mainannya (Foto: Heidi Hoiven)


Baca juga: Agar Anak Tak Kena Penyakit Ginjal, Ini Saran Dokter pada Orang Tua

Sementara, Kadin berpikir bahwa adanya mainan bisa membantu pasien anak-anak lebih enjoy menjalani terapinya. Seperti Kadin, ia merasa mainan bisa bermanfaat menghilangkan rasa bosan ketika menjalani cuci darah yang dilakukan lima hari seminggu selama 10 jam. Sebenarnya, Heidi mengatakan cuci darah bisa dilakukan di rumah tapi prosedur lain seperti pemberian infus bagaimanapun harus dilakukan di RS.

"Dan pastinya prosedur itu butuh selingan dan mainan bisa amat bermanfaat bagi anak-anak. Orang dewasa saja yang menjalani terapi bisa merasa bosan bukan?" kata Heidi.

Di usia 9 bulan, Kadin mendapat donor ginjal dari ayahnya. Namun, saat berusia 5 tahun, tubuh Kadin mulai menolak ginjal tersebut. Hingga saat Kadin berusia 8 tahun, Heidi yang mendonorkan sebagian ginkalnya. Sayang, tiga minggu kemudian ginjal donor itu harus diangkat karena terjadi komplikasi.

"Untuk itu saat ini Kadin tengah menunggu proses transplantasi yang ke-tiga. Meski begitu, dia anak yang lincah dan bersemangat. Kadin senang sekali senam dan parkour bahkan baru-baru ini dia ingin mencoba main bisbol," tutur Heidi.

Baca juga: Tak Beri Anak Cukup Vitamin D? Hati-hati Penyakit Ginjal Risikonya

(rdn/vit)

Berita Terkait