Selasa, 11 Apr 2017 13:02 WIB

Pengobatan TB Paling Sering Putus di Bulan Ke-2

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Dalam pengobatan TB (tuberkulosis), ada yang dianggap lebih serius dibanding putus cinta yakni putus obat. Paling sering terjadi di bulan kedua dari total 6 bulan masa pengobatan, kondisi tersebut bisa memicu resistensi dan pengobatan yang lebih panjang lagi.

"Biasanya, putus obat paling sering terjadi di bulan kedua ketika pasien mulai merasa badannya lebih enak," kata dr Adria Rusli, SpP dari RS Penyakit Infeksi Dr Sulianti Saroso, Selasa (11/4/2017).

Putusnya pengobatan TB biasanya tidak berhubungan dengan ketersediaan obat, karena obat-obatan yang dipakai umumnya tersedia secara gratis dan mudah didapatkan. Faktor utama yang memicu putus obat pada pasien TB, menurut dr Adria adalah rasa bosan dan kurangnya dukungan dari lingkungan.

"Pasien butuh diingatkan oleh pendamping minum obat," kata dr Adria.

Baca juga: Dalam Rangka Hari TB, Para Penarik Becak Dapat Pengobatan Gratis

Ketika pengobatan tidak tuntas karena terputus di tengah jalan, maka kuman-kuman TB yang belum benar-benar mati sewaktu-waktu bisa aktif kembali di kemudian hari. Celakanya, kuman-kuman yang aktif kembali tersebut berpotensi mengalami resistensi atau kekebalan terhadap obat TB.

Angka putus obat pada pasien TB tidak bisa dianggap remeh. Di RSPI Dr Sulianti Saroso, dr Adria memperkirakan ada sekitar 8 persen pengobatan TB yang tidak tuntas. Angka tersebut memang lebih tinggi dibanding angka nasional yang berada di kisaran 5 persen.

Baca juga: Cerita Pasien TB Jadi Motivator Pasien Lain dan Kader yang 'Galak' (up/vit)