ADVERTISEMENT

Kamis, 05 Apr 2018 16:48 WIB

Berbagai Kontroversi Ilmu Pengetahuan, Warsito hingga dr Terawan

Firdaus Anwar - detikHealth
Warsito Purwo Taruno juga pernah menuai kontroversi dengan rompi anti kanker payudara (Foto: M Reza Sulaiman)
Jakarta - Masih ingat Warsito Purwo Taruno dengan rompi antikanker payudara ciptaannya? Atau terapi rokok herba di Malang yang diklaim bisa sembuhkan penyakit?

Semua itu menurut Ketua Akademi Ilmuan Pengetahuan Indonesia (AIPI) Profesor Dr Sangkot Marzuki adalah contoh kasus yang mirip seperti dialami oleh dr Terawan Agus Putranto dengan terapi cuci otak yang menjadi kontroversi beberapa tahun belakangan. Berbagai metode 'terapi kesehatan' baru ini cenderung dibiarkan sampai besar sebelum akhirnya otoritas bertindak.

"Kompleksitas kita itu di Indonesia tidak berani mengatakan hitam itu hitam, putih itu putih," kata Prof Sangkot ketika ditemui detikHealth di Kantor AIPI, Komplek Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018).



Pada kasus Warsito, seorang pakar teknik elektronika, rompi antikankernya baru menarik perhatian pemerintah setelah ia membuka klinik dan menerima pendaftaran pasien tahun 2016 lalu. Padahal studinya sudah berjalan sejak tahun 2000.

Sementara untuk rokok herba kasus muncul ketika penemunya, Abdul Malik, tahun 2005 mendirikan pabrik rokok yang diklaim bisa menyembuhkan penyakit. Abdul menyebut rokok yang dibuatnya sudah diuji di laboratorium Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya.

Sementara dr Terawan memanfaatkan teknologi Digital Substraction Angiography (DSA) dan heparin untuk mengobati stroke. Walau sudah diteliti sebagai bahan disertasi S3-nya di Universitas Hasanuddin Makassar, terapi ini masih diragukan dasar ilmiahnya oleh sejumlah kalangan.

"Masalah-masalah ini jadi kompleks karena tidak ada yang berani mengambil keputusan," kata Prof Sangkot.

(fds/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT