Promotor dr Terawan di Unhas Sebut 'Cuci Otak' Butuh Uji Klinis

ADVERTISEMENT

Promotor dr Terawan di Unhas Sebut 'Cuci Otak' Butuh Uji Klinis

Ibnu Munsir - detikHealth
Jumat, 06 Apr 2018 11:41 WIB
Kontroversi dr Terawan 'Cuci Otak' direspons Prof Irawan, promotornya di Unhas (Foto: thinkstock)
Makassar - Ramainya kontroversi tentang metode pengobatan cuci otak yang diterapkan oleh Dr. dr. Terawan Agus Putranto, SpRad dan juga kasus sanksi oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), direspons oleh Prof Irawan Yusuf dari Universitas Hasanuddin Makassar. Prof Irawan merupakan promotor dr Terawan dalam risetnya tentang heparin dan Digital Substraction Angiography (DSA).

Prof Irawan Yusuf dalam keterangan persnya bersama wartawan mengatakan, dari sudut ilmiah metode penelitian yang digunakan dr Terawan sudah sesuai standar sebagai mahasiswa S3 program doktor di Unhas.

Namun perlu dicatat metode yang digunakan dr Terawan harus ada uji klinik terlebih dahulu, meski beberapa pasien mengangap program dan metode yang digunakan dalam mengobati pasien berhasil.

"Sudut ilmiah sebenarnya metode penelitian sudah standar sebagai mahasiswa S3. Namun perlu dicatat kalau mau memperkenalkan harus ada uji klinik terlebih dahulu, uji klinik dengan mengacak pasien dokter Terawan dan dokter biasa dan kita akan liat hasilnya," kata Prof Irawan Yusuf, di Gedung Rektorat Unhas, Jalan Printis Kemerdekaan Makassar, Jumat (6/4/2018).

Prof Irawan Yusuf menjelaskan riset dr Terawan Agus PutrantoProf Irawan Yusuf menjelaskan riset dr Terawan Agus Putranto (Foto: Ibnu detikHealth)




Lebih lanjut, menurut Prof Irawan dalam dunia kedokteran, hampir semua terobosan dimulai dengan kontroversi dan kontroversi ini harus diselesaikan dengan riset yang membutuhkan waktu cukup panjang.

"Dalam dunia kedokteran hampir semua terobosan semua dimulai dengan kontroversi dan ini harus diselesaikan dengan riset dan panjang prosesnya. Namun masalahnya panjang. Saya secara akademik tidak ada urusan dengan praktik, itu urusan profesi dokter," terangnya.

Kasus dr Terawan dengan metode cuci otak sendiri harusnya tak menjadi kontroversi dan permasalahan saat ini, jika dr Terawan dan IDI ada komunikasi yang baik sebelumnya.

"Harusnya tak menjadi kontroversi dengan metode yang digunakan dr Terawan, kalau ada komunikasi dr Terawan dengan teman teman IDI pasti tak ada masalah," tutupnya.

(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT