Jumat, 06 Apr 2018 21:19 WIB

Disebut-sebut 'Cuci Otak' Perlu Uji Klinis, Seperti Apa Tahapannya?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Uji klinis memiliki sejumlah tahapan atau fase (Foto: thinkstock)
Jakarta - Terapi cuci otak Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad dengan menggunakan alat Digital Subtraction Angiography (DSA) masih menjadi perbincangan khalayak ramai. Pasalnya, penelitiannya tentang terapi tersebut masih dipertanyakan dasar ilmiahnya.

Dimintai tanggapan soal kontroversi tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Siswanto, menjelaskan suatu penelitian yang baik untuk diterapkan pada manusia harus melalui beberapa fase uji klinis.

"Kalau bicara penelitian yang untuk manusia kan ada fase-fasenya, ada uji klinis fase 2, terus 3. Kalau fase 1 kan sudah selesai," ujarnya saat ditemui di sela-sela acara Rapat Kerja Balitbangkes di Hotel Manhattan Jakarta, Jumat (6/4/2018).

Siswanto pun mengatakan bahwa suatu penelitian harus sesuai dengan prinsip kaidah ilmiah.



"Sebetulnya kan itu sudah diteliti untuk disertasi di Unhas (Universitas Hasanuddin), tapi saya tidak mendalaminya. Tapi kalau disertasi itu sudah oke sebetulnya secara ilmiah bisa diterima sepanjang prinsip-prinsip kaidah ilmiahnya bisa dijalankan," jelasnya.

"Nanti akan diselesaikan di IDI," imbuh Siswanto.

Sementara itu Ketua Akademi Ilmuan Pengetahuan Indonesia (AIPI) Profesor Dr Sangkot Marzuki menyebut kontroversi semacam ini dengan keengganan para pemegang keputusan untuk bertindak sebelum sebuah penelitian menjadi besar dan menyangkut banyak orang.

"Kompleksitas kita itu di Indonesia tidak berani mengatakan hitam itu hitam, putih itu putih. Bukan cuma kasus ini aja kan masih banyak kasus yang lain," katanya.

(wdw/up)