Rabu, 09 Mei 2018 11:10 WIB

Transformasi Bocah Tergemuk

Dulunya Makan Tak Terkontrol, Sekarang 5 Sendok Sudah Kenyang

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Operasi bariatrik cuma menyisakan 30 persen volume lambung Aria Permana (Foto: Frieda/detikHealth)
Jakarta - Mi instan dan minuman manis gelas menjadi faktor utama penyebab obesitas ekstrem yang dialami Aria Permana, bocah tergemuk di dunia yang bobotnya mencapai 192 kilogram pada 2016. Untuk menurunkan berat badan, pola makannya harus sangat dijaga.

Dalam mengatur pola makan, pionir binaragawan Ade Rai sangat berperan besar. Makanan untuk Aria diutamakan berasal dari rumah dengan proses penyajian yang tidak boleh sembarangan.

"Lebih banyak sayur-sayuran. Ikannya juga sekarang dipanggang," ujar Rohayah (36), ibunda Aria, kepada detikHealth di kediamannya di Kabupaten Karawang, baru-baru ini.



"Sama om Ade Rai cuma makan ini boleh tapi penyajiannya yang beda. Misal ayam (dulu) digoreng sekarang dibakar. Itu ikan (dulu) digoreng sekarang dikukus," imbuh Aria, kini berusia 12 tahun.

Aria juga sempat menjalani operasi bariatrik atau penyempitan lambung, di mana lambungnya dipotong dan hanya disisakan 30 persen. Hal ini menyebabkan perubahan drastis pada bobot dan asupan makannnya.

"Kalau mau makan juga kalau kebanyakan muntah, lima sendok aja udah kenyang," kata bocah yang dulu kerap menjadi juara kelas ini.

Selain itu, Aria juga meminum susu protein khusus yang harus ia minum terus untuk membantunya turun berat badan. Susu ini merupakan subsidi dari Rumah Sakit OMNI, dan mendapatkannya harus impor dari Belanda.

Ia menyebutkan makanan favoritnya kini adalah pecel lele buatan ibunya, bahkan ia sudah jarang menyentuh mi instan ataupun minuman manis. Kini ia menargetkan bobotnya turun menjadi 80 kilogram agar bisa meraih cita-citanya, sebagai pemain sepak bola.



[Gambas:Video 20detik]



(up/up)