Minggu, 29 Jul 2018 09:25 WIB

Miris, 50 Persen Pengidap Hepatitis Alami Diskriminasi di Kantor

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Penderita hepatitis mungkin mengalami diskriminasi di tempat kerja. (Foto: Thinkstock) Penderita hepatitis mungkin mengalami diskriminasi di tempat kerja. (Foto: Thinkstock)
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia
Jakarta - Hepatitis menjadi penyakit peradangan hati yang disebut silent killer karena sering tanpa gejala sehingga disepelekan dan akhirnya ditemukan sudah dalam stadium lanjut dan berkomplikasi. Untuk menekan angka pengidap hepatitis di dunia, dilakukan aktivitas bernama No-Hep, yaitu kegiatan untuk mengeliminasi penyakit hepatitis ini yang terus disosialisasi pada Hari Hepatitis Sedunia tiap tanggal 28 Juli.

Yang menjadi alasan adalah ditemukannya 50 persen pengidap hepatitis mengalami diskriminasi di tempat kerja. Misalnya ditolak bekerja begitu ketahuan memiliki penyakit hepatitis saat cek kesehatan calon karyawan karena mempertimbangkan hepatitis sebagai penyakit menular.

"Atau begitu ketahuan orang sakit hepatitis langsung dipisahkan tempat makannya. Pas makan siang bareng itu dikasih piring kertas, gelas kertas buat yang hepatitis. Itu sih berlebihan. Kadang ada kecenderungan seperti itu, tidak menerima orang sakit hepatitis," tutut dr Irsan Hasan, Ketua PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, baru-baru ini.

Kemudian yang lebih menyedihkan lagi adalah 50 persen orang sakit hepatitis terdeteksi secara kebetulan dan tidak melanjutkan pengobatannya karena tidak penyakitnya diketahui oleh orang lain. Hal ini juga disebabkan karena 1 dari 3 orang sakit hepatitis merahasiakannya dari keluarga dan orang sekitarnya, bahkan ada yang merahasiakan terhadap suami atau istrinya sendiri.



Sehingga, lanjut dr Irsan, dicanangkan tahun 2030 sebagai tahun eliminasi hepatitis. Namun ia mengungkapkan walau dunia bisa bebas dari hepatitis, akan ada kekhawatiran baru yakni fatty liver atau perlemakan hati yang terjadi akibat tingginya angka obesitas atau kegemukan.

Penelitian fatty liver pernah dilakukan oleh tim dr Irsan bersama RS Cipto Mangunkusumo pada tahun 2001 di Sukmajaya, Depok. Pada populasi usia 25 tahun ke atas sebanyak 1.000 orang dan ditemukan melalui pemeriksaan USG ada 29-30 persen orang mengidap fatty liver.

"Waktu itu awal-awal karena fatty liver baru belakangan ini nih jadi perhatian. Dipikir dulu negara maju doang, Jepang, Amerika, yang banyak kena fatty liver. Ternyata di Indonesia juga banyak fatty liver," katanya.

Faktor risikonya kegemukan, trigliserida tinggi, kolesterol, diabetes mellitus, dan penyakit-penyakit metabolik lainnya. Perlemakan hati juga menjadi salah satu penyebab hepatitis dan kanker hati namun memang masih rendah jika dibandingkan dengan virus.

"Tapi akhir-akhir ini saya makin sering tuh nerima pasien yang kanker hatinya karena fatty liver. Virusnya nggak ada tapi terlihat dia fatty liver," tandas dr Irsan.

Miris, 50 Persen Pengidap Hepatitis Alami Diskriminasi di KantorFoto: infografis/Nadia


(frp/up)
Topik Hangat Hari Hepatitis Sedunia