Selasa, 25 Sep 2018 13:15 WIB

Pertama di Bali, RSUP Sanglah Sukses Mengoperasi Skoliosis Langka

Aditya Mardiastuti - detikHealth
Derajat kelengkungan skoliosis mencapai 100 derajat, hingga menyentuh paru-paru. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth) Derajat kelengkungan skoliosis mencapai 100 derajat, hingga menyentuh paru-paru. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth)
Denpasar - RSUP Sanglah, Denpasar, Bali berhasil melakukan operasi terhadap pasien penderita severe adolescent idiopathic scoliosis atau skoliosis langka dengan tingkat kebengkokan di atas 80 derajat atau hampir membentuk huruf S. Tindakan operasi terhadap kasus skoliosis langka ini baru pertama kalinya dilakukan di Bali.

"Kelengkungan tulang belakang 100 derajat, dan menyinggung paru-paru. Dulu saya di Jakarta hanya 1-2 kasus, ini kasus pertama yang dikerjakan di bali dengan skoliosis berat. Jadi kita diagnosis dengan severe scoliosis atau skoliosis berat, adolescent idiopathic scoliosis lenke 3 CN," kata dr I Gusti Lanang Artha Wiguna Sp OT(K) saat jumpa pers di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Selasa (25/9/2018).

dr Lanang menjelaskan operasi terhadap pasien bernama Luh Putu Febi Sriandari (23) tersebut dilakukan dokter gabungan yang terdiri dari spesialis orthopedi, hingga spesialis saraf. Di antaranya dr Tjokorda Senopati, Sp An; dr I Nyoman Semadi, Sp B, Sp BTKV; dr Cok Dalem, Sp KFR; dan dr Purna Putera, Sp S.

Lanang menjelaskan selama ini kasus skoliosis yang ditangani pihaknya rata-rata memiliki kebengkokan sebesar 70 derajat. Dia menambahkan rata-rata pasien dengan tingkat kebengkokan di atas 40 derajat disarankan operasi.

"Rata-rata yang kami kerjakan selama ini di bawah 70 derajat. ini kasus yang langka, nggak banyak yang mengalami. Ini kami sampai 3 kali rapat tim, sepakat unutk melakukan tindakan operasi atas permintaan operasi pasien sendiri. Tiga bulan persiapan," terangnya.

Kondisi kelengkungan tulang belakang di atas 80 derajat terbilang langka.Kondisi kelengkungan tulang belakang di atas 80 derajat terbilang langka. Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth




Dia menjelaskan untuk kasus ini ada dua tahap operasi terhadap pasien. Tahap pertama adalah melepaskan pelengketan paru-paru terhadap tulang belakang, kemudian tahap kedua yakni memasang implan untuk meluruskan tulang yang bengkok tersebut.

"Setelah dua minggu dirasa cukup melepaskan pelengketan di tulang belakang, kita lakukan operasi tahap kedua. Kita melakukan pemasangan implan, pedicle screw system, untuk meluruskan tulang yang bengkok tadi. Jadi dari 100 derajat tadi kita berhasil mengkoreksi 46 derjat tanpa komplikasi," terang Lanang.

Dia menambahkan selama proses operasi tim dokter rumah sakit bahkan membuat alat khusus untuk membantu pengobatan pasien. Tim dokter juga mendatangkan alat khusus untuk memonitor saraf pasien. Sebab, tingkat kesulitan operasi skoliosis langka ini tergolong tinggi.

"Komplikasi yang sering timbul yaitu kelumpuhan, atau meninggal. Pasien ini cukup berani mengambil keputusan operasi. Selama operasi kita dibantu dokter saraf untuk memonitor agar tidak terjadi kelumpuhan, dengan monitor mesin khusus apabila ada penurunan saraf memberi info ke saya," papar Lanang.

"Operasi ini berjalan 4 jam. Jadi kita tim operasinya 4 orang termasuk dokter tim anestesi juga, khusus karena rongga dada yang tidak seimbang jadi harus betul-betul memberi suplai oksigen yang tepat pada saat pembiusan," sambungnya.

Luh Putu Febi Sriandari (23) berpose dengan tim dokter RSUP Sanglah yang menangani.Luh Putu Febi Sriandari (23) berpose dengan tim dokter RSUP Sanglah yang menangani. Foto: Aditya Mardiastuti/detikHealth




Lanang menyebut total biaya yang dihabiskan untuk melakukan operasi skoliosis itu sekitar Rp 150 juta. Biaya ini tergolong murah jika dibandingkan dengan biaya operasi di luar negeri yang mencapai miliaran rupiah.

"Untuk biaya total mencapai di atas Rp 150 juta, tapi nggak sampai Rp 200 juta. BPJS mengcovernya tapi sudah jelas negatif, tapi rumah sakit mengcover (sisanya). Sebab ini rumah sakit pendidikan, tipe A khusus pendidikan, rumah sakit harus memback up demi pendidikan demi pelayanan. RS membijaksanai dengan subsidi silang," ucapnya.

Dia menjelaskan hasil operasi terhadap pasien tersebut tergolong sukses. Dua hari setelah operasi, pasien sudah bisa beraktivitas normal.

"Dua hari sadar baik, kekuatan kakinya baik menunjukkan normal kita kembalikan ke ruangan untuk perawatan lebih lanjut. Ini pasien sudah bisa berdiri dan berjalan dengan baik. Dia happy banget tinggi badannya 164 cm setelah operasi 171 cm," ujarnya.




Saksikan juga video 'Hiks! Bocah di Tanzania Alami Kelainan Tulang karena Air':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
News Feed