Minggu, 17 Mar 2019 11:12 WIB

Pengawasan Kawasan Tanpa Rokok Dinilai Lemah, Aturan Harus Terpasang

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi larangan merokok. Foto: Shutterstock Ilustrasi larangan merokok. Foto: Shutterstock
Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti efek aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang mulai lemah. Akibatnya, masyarakat mulai abai pada rambu larangan merokok.

"Dalam pantauan kami di Jakarta, efek aturan KTR mulai lemah misal di kantor dan tempat umum. Untuk tempat umum kami menyoroti hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan misal mal. Untuk kebiasaan merokok di kantor tentunya bukan di front office atau di pelataran depan," kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi pada detikHealth, Sabtu (16/3/2019).


Tulus juga menyebut nama salah satu mal di Jakarta Selatan, yang menurutnya sering terjadi pelanggaran KTR. Kebiasaan merokok biasanya dilakukan di tempat tersembunyi yang tidak terlihat umum, misal toilet. Menurut Tulus, tempat tersebut bukannya luput dari pemasangan rambu dilarang merokok. Pelanggaran semata diakibatkan efek aturan yang lemah dan kesadaran patuh yang minim.

YLKI menyarankan segera dilakukan evaluasi kembali terkait kepatuhan larangan merokok di KTR. Aturan tersebut harus dipastikan efektif mengendalikan kebiasaan merokok terutama di KTR. Pengelola gedung juga harus mengevaluasi kembali pemasangan aturan larangan merokok supaya lebih mudah terlihat.

"Pengelola gedung mungkin merasa masyarakat sudah tahu, tapi faktanya KTR masih sering dilanggar. Dengan rambu yang lebih mudah dilihat, masyarakat kembali diingatkan supaya tidak merokok di sekitar KTR jika tidak mau terkena sanksi," kata Tulus.




(Rosmha Widiyani/up)
News Feed