Selasa, 02 Apr 2019 08:31 WIB

Cerita tentang Minyak Kutus-kutus, Salah Satu Minyak Terapi yang Ngehits

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Servasius Bambang Pranoto dan minyak kutus-kutus kebanggaannya (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth) Servasius Bambang Pranoto dan minyak kutus-kutus kebanggaannya (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth)
Jakarta - Indonesia terkenal dengan penggunaan minyak dalam pengobatan tradisional. Di antaranya minyak kayu putih, minyak telon, minyak tawon, dan belakangan ini tengah ngehits minyak asal Bali yaitu minyak kutus-kutus.

Minyak kutus-kutus diproduksi oleh PT Tamba Waras yang dicetuskan pertama kali oleh Servasius Bambang Pranoto beberapa tahun yang lalu. Asal muasalnya sebenarnya sederhana, ia hanya ingin sembuh dari sakit yang kala itu diidapnya.

"Jadi pertama kali di tahun 2011 saya terperosok, kaki kiri saya masuk ke lubang. Rasanya nggak karu-karuan. Lalu saya tidur, paginya saya lumpuh. Bagian tubuh bawah nggak bisa saya rasakan tapi perut ke atas bisa," katanya saat dijumpai di Kabupaten Gianyar, Bali, baru-baru ini.


Setelah itu, Pranoto memanggil tukang pijat, mulai dari yang kelas RT, RW sampai tukang pijat langganan para atlet (sport massage) tapi tak kunjung sembuh. Saat mengunjungi dokter ia merasa tidak kunjung mendapatkan jawaban maupun pengobatan yang sesuai. Pranoto merasa putus harapan dan melakukan perenungan.

"Memang tidak segera dapat jawaban, mungkin sekitar setengah bulan lalu dapat pencerahan untuk buat minyak. Setelah itu akhirnya muncul berbagai macam resep untuk membuat minyak dari 49 bahan yang semuanya dari bumbu masak. Tapi saat itu belum ada namanya karena pada waktu itu hanya untuk mengobati diri sendiri," tambahnya.



Setelah meracik komponen bahan herbal tersebut, Pranoto tidak menyangka akan bisa sembuh dengan minyak yang dia buat sendiri. Rasa bahagia ini kemudian dia ceritakan pada rekannya dan juga racikan minyak miliknya dibagikan kepada rekan yang sedang sakit. Ternyata setelah menggunakan minyak racikan dari Pranoto, rekannya berangsur pulih.

"Awalnya minyak itu hanya dibagikan, tidak ada rencana untuk dikomersilkan. Tetapi teman menyarankan untuk diproduksi karena mereka mengatakan minyak tersebut ampuh untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ibunya, kakaknya, adiknya, bisa sembuh," terangnya.


Menurut Pranoto, nama kutus-kutus tidak memiliki arti secara spesifik. Menurut Pranoto, nama kutus-kutus tidak memiliki arti secara spesifik. Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth


Awalnya, minyak racikan itu tidak memiliki nama. Asal nama kutus-kutus sebenarnya tidak memiliki arti yang spesifik. Hanya saja, kata itu tercetus saat ia berkunjung ke Pura Tampak Siring.

"Dari situ saya namakan Kutus-kutus, se-spontan itu," jelasnya.

"Lalu perjalanan kutus-kutus dimulai pada pertengahan tahun 2013. Sebelumnya masih bereksperimen karena bau minyak kutus-kutus terlampau kuat dan dirasa kurang enak. Setelah menemukan formula yang pas, akhirnya dikomersilkan," lanjutnya.

Saat ini, produksi minyak kutus-kutus bisa mencapai 720 ribu botol dalam sebulan. Penjualannya pun saat ini tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bahan yang digunakan dalam pembuatan minyak kutus-kutus berbahan dasar alami yang bisa dijumpai dengan mudah di pasaran.




Simak Juga 'Ternyata Manfaat Minyak Kelapa Banyak Banget Loh!':

[Gambas:Video 20detik]

(kna/up)