Jumat, 03 Mei 2019 11:00 WIB

RS-BPJS Putus Kontrak, Ini Pesan untuk Pasien Cuci Darah

Rosmha Widiyani - detikHealth
Layanan BPJS di RSUD Grati Kabupaten Pasuruan juga terancam dihentikan karena persyaratan akreditasi (Foto: Muhajir Arifin) Layanan BPJS di RSUD Grati Kabupaten Pasuruan juga terancam dihentikan karena persyaratan akreditasi (Foto: Muhajir Arifin)
Topik Hangat Putus Kontrak RS-BPJS
Jakarta - Pemutusan kontrak antara rumah sakit dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memberikan sejumlah efek samping. Salah satunya pada pasien cuci darah (hemodialisa/HD) yang harus rutin menjalankan tindakan medis tersebut.

"Untuk pasien cuci darah, rumah sakit bisa merujuknya ke pelayanan kesehatan lain yang masih menerima pasien BPJS Kesehatan. Rujukan ini untuk sementara hingga nanti perjanjian kerja sama terjalin kembali," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Ichsan Hanafi pada detikHealth, Jumat (3/5/2019).



Rumah sakit yang mengalami putus kontrak dengan BPJS Kesehatan tidak bisa berkeras menerima pasien cuci darah, karena tidak ada yang menanggung biaya tindakan medis tersebut. Rumah sakit bisa mengalamatkan rujukan pada layanan milik pemerintah atau swasta yang mampu melaksanakan tindakan cuci darah dengan BPJS Kesehatan.



Meski begitu, rumah sakit tetap memberikan layanan yang bersifat gawat darurat pada pasien yang membutuhkan. Selanjutnya pasien bisa memilih pelayanan umum atau dirujuk ke rumah sakit lain yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Sebelumnya, rumah sakit dan BPJS Kesehatan kembali mengalami putus kontrak akibat akreditasi yang belum diperpanjang. Akreditasi yang merupakan syarat utama kerja sama, menjamin kualitas layanan yang diterima pasien sesuai aturan dan standar yang berlaku.



Tonton video Sri Mulyani Beri Sinyal Iuran Peserta BPJS Bakal Naik!:

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
Topik Hangat Putus Kontrak RS-BPJS