Senin, 22 Jul 2019 13:33 WIB

20 Tahun Pakai Sabu Seperti Nunung, Adakah Ciri yang Bisa Dikenali?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Secara fisik, Nunung disebut-sebut tidak tampak seperti pecandu narkoba sehingga banyak rekan dan kerabat yang tidak menyangka ia ditangkap polisi. (Foto: screenshoot video) Secara fisik, Nunung disebut-sebut tidak tampak seperti pecandu narkoba sehingga banyak rekan dan kerabat yang tidak menyangka ia ditangkap polisi. (Foto: screenshoot video)
Jakarta - Berbeda dengan pecandu narkoba jenis heroin, putau, atau ganja yang biasanya terlihat kurus dan beler, pemakai sabu justru terlihat 'sehat-sehat saja' dan tak mengalami penurunan berat badan. Contohnya komedian Nunung yang menurut polisi sudah pakai sabu 20 tahun tapi tidak kelihatan kurus dan tetap aktif dalam kesehariannya.

Praktisi kesehatan jiwa dari Universitas Krida Wacana, dr Andri, SpKJ, FACLP mengatakan, pecandu sabu umumnya memang tak menampakkan tanda-tanda bahwa mereka menggunakan zat-zat adiktif tersebut.

"Kalau ditanya bagaimana mengenalinya? Nggak bisa kita. (Mereka) biasa-biasa saja. Kalau ketemu kita juga biasa-biasa saja, kita nggak tahu ketemu pas lagi kena pengaruh atau tidak itu nggak ketahuan, nggak bisa membedakan," ujarnya kepada detikHealth, Senin (22/7/2019).



Sabu mengandung metamfetamin, turunan dari zat amfetamin yang termasuk obat golongan stimulan yang dalam penggunaannya bisa membuat seseorang menjadi lebih percaya diri juga merasa lebih senang. Dalam praktiknya, sabu juga digunakan untuk menambah stamina, terutama untuk bekerja.

Pecandu dengan efek seperti itu disebut high-functioning addicts, di mana para pecandu justru bekerja atau berfungsi lebih baik jika menggunakan obat-obat golongan stimulan, seperti efedrin, amfetamin, kokain, metilfenidat, MDMA, dan modafinil.
Kalau ditanya bagaimana mengenalinya? Nggak bisa kita. (Mereka) biasa-biasa saja. Kalau ketemu kita juga biasa-biasa saja, kita nggak tahu ketemu pas lagi kena pengaruh atau tidak itu nggak ketahuan, nggak bisa membedakandr Andri, SpKJ - Psikiater

Meski tampak luar 'sehat-sehat saja', kondisi kecanduan sabu bisa membahayakan sistem saraf otak dan metabolisme tubuh. Overdosis narkoba jenis ini bisa berujung pada gangguan jiwa dan bahkan kematian.

"Orang-orang yang menggunakan ini (obat golangan stimulan -red) mengira kok jadi pede, jadi bisa melakukan sesuatu, mau menggunakan ini dengan penggunaan banyak. Kondisi ini yang menjadi bermasalah ke depannya. Ppenggunaannya tidak tepat, suka-suka, tidak sesuai dengan kondisi dia. Akhirnya menjadi masalah," tegas dr Andri.



Simak Video "Flakka, Narkoba yang Bikin Penggunanya Jadi 'Zombie'"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)