Sabtu, 03 Agu 2019 08:49 WIB

Komparasi 3 Jenis Masker Paling Populer, Mana yang Efektif Menangkal Polusi?

Firdaus Anwar - detikHealth
Tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya menjadikan masker sebagai salah satu produk paling banyak dicari. (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth) Tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya menjadikan masker sebagai salah satu produk paling banyak dicari. (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth)
Jakarta - Tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya membuat masker pernapasan kini jadi produk yang semakin dicari. Di pasaran saat ini diketahui ada beberapa jenis masker yang populer dipakai orang-orang untuk melindungi diri dari ancaman polusi.

Salah satu yang paling populer adala masker bedah yang biasa dipakai ojel online (ojol) yang harganya sekitar Rp 10 ribu. Selain itu juga ada masker N95 yang banyak direkomendasikan ahli pernapasan, dengan kisaran harga Rp 20-400 ribu. Terakhir, jenis masker yang belakangan ini juga ngehits yakni masker elektrik berfilter kipas dengan kisaran harga Rp 300-700 ribu.

Mana yang paling cocok untuk melawan polusi udara? Berikut rangkuman detikHealth usai menjajal tiga jenis masker tersebut.



Ketiga masker dicoba pada hari Jumat (2/8/2019) pukul 15.00 WIB di daerah Jakarta Selatan dengan kondisi skor Air Quality Index dari pantauan AirVisual mencapai 171. Tiap masker dicoba saat jalan kaki dan naik kendaraan sepeda motor, masing-masing selama setengah jam.

1. Masker bedah

Masker bedah mungkin bisa dibilang jadi masker yang paling populer sering digunakan oleh ojek online (ojol) karena relatif murah dan mudah didapat. Masker ini memiliki beberapa lapisan berbahan serat dengan ketebalan relatif tipis.

Saat dipakai masker bedah lebih terasa ringan dan tidak terlalu mencengkeram wajah. Karena alasan itu masker bedah relatif nyaman dipakai untuk jangka panjang.

Hanya saja karena pemasangan masker mengandalkan karet elastis kadang bagian atas tergeser-geser kurang kuat menutup sehingga udara keluar lewat sana. Bagi yang memakai kacamata hal ini mungkin bisa membuat lensanya berembun.

Masker bedah juga jarang ada yang memiliki kemampuan N95 sehingga tidak cocok untuk menyaring partikel debu halus.

Masker bedah ala 'ojol' memberikan perlindungan paling minimalis.Masker bedah ala 'ojol' memberikan perlindungan paling minimalis. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth




2. Masker N95

Masker N95 adalah masker yang telah melalui pengujian dapat menyaring sekitar 95 persen partikel halus di udara. Masker N95 paling sering dianjurkan oleh ahli kesehatan untuk menghadapi polusi dan biasa dipakai oleh para tim penyelamat saat terjadi bencana hingga pekerja industri.

Ketika dipakai masker N95 terasa yang paling kuat mencengkeram wajah. Setelah 10 menit pemakaian detikHealth bisa merasakan tekanan pada area hidung terasa tidak nyaman ditambah rasa gerah.

Dari segi kemampuan menyaring debu, ketika dipakai di jalanan dan saat berkendara naik motor debu tidak terasa menembus masker meski kondisi jalanan relatif padat.

Masker N95 paling banyak disarankan oleh dokter paru.Masker N95 paling banyak disarankan oleh dokter paru. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth




3. Masker elektrik

Masker elektrik yang didapat detikHealth menggunakan tenaga baterai dan dilengkapi dengan filter kipas untuk melancarkan sirkulasi udara. Di keterangan beberapa toko online yang menjualnya masker ini diklaim sudah N95.

Ketika pertama kali dipakai cengkraman masker elektrik di wajah terasa lumayan kuat, namun masih bisa ditoleransi karena ukuran talinya bisa disesuaikan. Masker juga tidak terlalu menekan area hidung.

Beberapa menit dipakai hal yang terasa adalah masker relatif nyaman tidak menyebabkan gerah pada area mulut. Debu juga tak terasa menembus masker meski dengan kondisi jalan relatif padat.

Hanya saja catatan ketika berkendara naik sepeda motor, masker elektrik ini mungkin tidak cocok dipakai bersamaan dengan helm full face. Dimensi masker yang relatif tebal karena ada filter kipas bisa membuat ruang kosong di dalam helm jadi terlalu penuh.

Kekurangan dari masker elektrik ini adalah filternya yang harus diganti dengan harga relatif tidak murah sekitar Rp 150 ribu. Selain itu masker juga harus selalu diisi dayanya agar kipas bisa berfungsi.

Masker dengan 'exhaust' kecil di samping.Masker dengan 'exhaust' kecil di samping. Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth




Simak Video "Penjelasan Dokter Soal Viral Masker Pantyliner untuk Lawan Asap"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)