Senin, 16 Sep 2019 16:00 WIB

Komentar Dokter Paru Soal Viral Masker Pantyliner untuk Lawan Kabut Asap

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Masker yang dilapisi pantyliner. (Foto: Tangkapan layar Facebook) Masker yang dilapisi pantyliner. (Foto: Tangkapan layar Facebook)
Jakarta - Beragam cara dilakukan warga untuk terhindar dari paparan polusi udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Memakai masker dan tidak keluar rumah menjadi cara paling mudah agar tidak terpapar kabut asap.

Entah didasari oleh apa, beberapa netizen membagikan 'saran' masker pantyliner untuk mencegah paparan polusi dari asap kebakaran hutan.

Masalah polusi udara tentu bukan hal sepele. Meski demikian, sangat tidak bijaksana jika menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Spesialis paru dr Frans Abednego Barus, SpP, dari Omni Hospital Pulomas mengatakan melapisi masker dengan pantyliner tidak melindungi dari partikel polusi.


"Prinsipnya adalah kita melindungi diri dari partikel jelaga, debu, yang berukuran 0,05 mikron. Berarti masker yang kayak dokter bedah itu nggak ada gunanya," katanya kepada detikcom, Senin (16/9/2019).

"Mau ditutup pantyliner kek, pembalut kek, terserah. Tapi dalam dunia kedokteran itu nggak ada fungsi yang bermakna," sambungnya.

Ia melanjutkan, meski bisa saja penggunaan masker pantyliner ditujukan untuk melindungi bau tertentu, tetap tak bisa digunakan melindungi diri dari partikel debu dan asap kebakaran hutan.

"Mencegah dalam keadaan akut seperti bau atau apa mungkin bisa saja tapi akibat kronik dari terpaparnya debu dalam waktu lama dan konsentrasi tinggi nggak bisa dihindari. Penyakit kronik paru tetap akan muncul 10-15 tahun lagi," pungkasnya.



Simak Video "Penjelasan Dokter Soal Viral Masker Pantyliner untuk Lawan Asap"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)