Sabtu, 28 Sep 2019 10:05 WIB

Korban Terkait Vape Terus Bertambah, Ada Kasus yang Mirip di Indonesia

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi vape. Foto: iStock Ilustrasi vape. Foto: iStock
Jakarta - Baik korban yang dirawat dan korban meninggal di Amerika Serikat (AS) terkait rokok elektrik atau vape terus bertambah. Setidaknya ada 530 kasus kerusakan paru-paru dan 11 orang meninggal dunia.

Kasus tersebut berkembang sangat pesat di AS sehingga menyebabkan pemerintah turun tangan melarang peredaran vape dengan perasa. Lantas, apakah ada kasus serupa terjadi di Indonesia? Mengingat pengguna vape di sini juga terbilang cukup banyak, terutama disebut-sebut menjadi alat bantu berhenti merokok.

"Sampai saat ini laporan resmi belum ada. Tapi saya tadi menampilkan 2 kasus, dari teman sejawat dan saya sendiri," jawab Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR.



Kasus pertama yang ditangani disebut dr Agus memiliki karakteristik sangat mirip dengan kasus yang terjadi di AS. Pasien pria berusia 23 tahun yang telah merokok selama 8 tahun dan baru menggunakan vape selama 6 bulan. Datang dengan keluhan sesak napas selama 3 hari, batuk, tidak demam, tidak ada riwayat asma, tidak ada riwayat TB maupun operasi. Hasil rontgen menyatakan ada hidropneumothoraks di dada kirinya namun tidak ada infiltrat atau peradangan.

Kasus kedua terjadi pada pasien berusia 18 tahun yang sudah mengonsumsi vape selama 3 bulan dengan keluhan sesak napas dan batuk selama 3 minggu, demam saat awal, batuk dengan sedikit darah. Foto rontgen menunjukkan hasil adanya infiltrat di dada bawah kanan-kiri.

Karakteristiknya mirip dengan yang terjadi di AS, yakni pneumonitis, suatu peradangan paru akut yang tidak disebabkan karena adanya infeksi. Ini lah yang menjadikan kasus di AS menjadi misterius dan masih ditelusuri penyebabnya.

"Apa ini terkait vape? Tapi tidak terbukti infeksi, tidak terbukti kanker. Kalau balik lagi ke indikasi CDC (The Center for Disease Control and Prevention) 90 hari vaping, sesak, di foto ada kelainan. Ya mirip kan (seperti di AS -red)" jelas dr Agus.



Simak Video "Benarkah Menggunakan Vape Bisa Jadi Depresi?"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)