Selasa, 22 Okt 2019 21:02 WIB

Jejak 'Perseteruan' Calon Menkes dr Terawan dengan Ikatan Dokter Indonesia

Firdaus Anwar - detikHealth
Kepala RSPAD dr. Terawan usai bertemu Presiden Jokowi di Istana, Jakarta. (Andhika-detikcom) Kepala RSPAD dr. Terawan usai bertemu Presiden Jokowi di Istana, Jakarta. (Andhika-detikcom)
Jakarta - Kepala RSPAD Gatot Soebroto dr Terawan merapat ke Istana Kepresidenan pada Selasa (22/10/2019) memenuhi panggilan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia datang memakai baju warna putih, sama seperti pakaian yang dikenakan calon menteri lainnya.

"Baru dihubungi," kata dr Terawan singkat mengaku baru dihubungi untuk datang ke Istana.

Pria bernama lengkap Terawan Agus Putranto ini pernah populer karena kontroversinya dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Bermula dari aktivitasnya menjalankan terapi 'cuci otak' dengan menggunakan alat Digital Substraction Angiography (DSA).



Cuci otak merupakan istilah lain flushing atau DSA yang dilakukan dr Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala. Dengan cara ini ia disebut berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke salah satunya Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Di sisi lain IDI menilai terapi yang dilakukan dr Terawan belum teruji secara ilmiah karena DSA sebetulnya alat diagnosis. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran pada bulan April 2018 menetapkan dr Terawan melakukan pelanggaran kode etik dengan sanksi pemecatan sementara.

"Sebenarnya DSA alat untuk diagnosis. Di dr T dijadikan alat untuk terapi bahkan prevensi. Analoginya, apa bisa kalau batuk dirontgen terus batuknya sembuh? Itu kan untuk diagnosis," kata Prof Dr dr Moh Hasan Machfoed, SpS(K), MS, yang saat itu menjabat ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).

Isu pemecatan dr Terawan ini meledak menarik perhatian berbagai pihak. Banyak dukungan datang untuk dr Terawan.

Pada akhirnya sanksi etik berupa pencabutan izin praktik terhadap dr Terawan ditunda. Ia kembali melakukan terapi cuci otak dengan DSA termasuk pada sekitar 1.000 warga Vietnam sebagai upaya mempromosikan medical tourism.



Simak Video "Pesan Berantai soal Pasien BPJS Kesehatan Darurat Dipastikan Hoaks"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)